Ribuan hektare tanaman cengkeh di Buleleng diserang JAP. (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Serangan penyakit Jamur Akar putih (JAP) menjadi momok mengerikan bagi petani cengkeh di Buleleng. Sampai tahun ini, tercatat seluas 4.306 hektare kebun cengkeh yang tersebar di sembilan kecamatan di Buleleng, mengalami kerusakan ringan hingga berat akibat terserang JAP.

Dari data yang dihimpun di Dinas Pertanian (Distan) Buleleng, jumlah lahan cengkeh yang didaerah ini seluas 8.091 hektare. JAP pun dilaporkan telah merusak sebagian lahan tersebut hingga 53.22 persen. Dengan rincian seluas 2.589 hektare mengalami kerusakan ringan, dan 1.717 hektare mengalami kerusakan berat.

Pelaksana tugas (Plt) Dinas Pertanian Buleleng, I Made Sumiarta mengklaim, setiap tahun pihaknya sudah memprogramkan penanganan JAP dengan memberikan bantuan bibit trekoderma serta pupuk organik kepada kelompok petani. Tahun ini, bantuan itu diberikan di kecamatan Tejakula, Sukasada, Sawan, Busungbiu, Banjar dan Seririt, untuk
luas lahan 300 hektare. “Trekoderma itu semacam jamur juga, yang memakan JAP ini. Sentra-sentra kami untuk menangani JAP ini ada di Kubutambahan dan Banjar,” katanya.

Menurut Sumiarta, setelah melakukan penanganan dengan trekoderma, serangan JAP belum juga maksimal bisa dibasmi. Sebab, pola penanganan ini dilakukan dengan sistem demplot. Demikian juga, kerugian yang ditimbulkan akibat serangan JAP belum bisa dipastikan karena tergantung dengan kemampuan produksi tanaman itu sendiri. “Kami belum bisa mendata. Karena kegiatan ini spot per spot. Yang jelas dari kegiatan pemberian trekoderma boleh dikata adanya penurunan yang signifikan di beberapa demplot yang sudah dilaksanakan. Kerugian juga yang jelas tergantung hasil produksi. Produksi itu dilakukan dua tahun ke depan, sehingga belum bisa didata,” jelasnya.

Baca juga:  Intensitas Hujan Tinggi, Petani Was-Was Serangan Hama

Serangan JAP juga meresahkan petani cengkeh di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng. Ratusan pohon cengkeh mati akibat terserang jamur tersebut.

Perbekel Mengening, Angga Wirayuda menyebutkan, beberapa petani di desanya mulai putus asa, sebab obat-obat yang digunakan untuk membasmi jamur tak sepenuhnya ampuh. Produksi lahan pun turun drastis. Biasanya per hektare lahan bisa menghasilkan tiga ton cengkih basah per tahunnya, kini turun menjadi 500 kilogram per hektare. (Mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.