Tumpukan beragam merek beras di salah satu lapak pedagang. (BP/Dokumen)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk beras premium membawa dampak menggembirakan bagi petani padi organik. Pasalnya, Bali yang sedang menuju pulau organik, sedang membangun pertanian organik termasuk di Desa Sidan.

“Tentu kebijakan ini lebih menguntungkan lagi bagi petani kami karena sebelumnya harga padi organik kita memang dibeli lebih tinggi dari beras konvensional. Ditambah dengan adanya kebijakan kenaikan HET beras organik maka petani lebih untung lagi,” ungkap I Made Sukra Suyasa, Perbekel Desa Sidan.

Harga beras konvensional di tingkat petani yaitu Rp4.000 per Kg namun gabah petani di Desa Sidan dibeli oleh BumDes dengan harga Rp6.000 per Kg sebelum HET naik. Sementara saat harga gabah konvensional naik menjadi Rp7.000 – Rp8.000 per Kg, gabah organik di Desa Sidan pun telah dihargai Rp10.000-Rp11.000 per Kg Gabah Kering Panen (GKP).

Baca juga:  Banyak Gabah Petani Dibawa Keluar Bali

Meski diakui beras premium yang dijual merupakan stok beras Januari- Februari, namun kenaikan HET di bulan Maret maka panen raya April akan memberi keuntungan lebih bagi petani. Di Desa Sidan sendiri dikatakan telah dominan menanam padi organik.

“Sekarang belum masa panen, bulan depan (April) barulah musim panen jadi jual stok Januari- Februari untuk HET yang naik ini,” ujarnya.

Bulan April diperkirakan di Desa Sidan akan panen padi organik seluas 9 ha dengan produksi 7-8 ton per ha sehingga total hasil panen diperkirakan sekitar 63 – 72 ton padi. “Kemungkinan petani kami dengan HET naik, mereka merasakan peningkatan dari hasil penjualan dan tanamnya,” ujarnya.

Baca juga:  Cuaca Ekstrem, Petani Sulit Penuhi Kuota Ekspor Kopi Robusta

Ia pun melihat hasil panen raya bulan April akan lebih baik karena kualitas padi serta progres pertumbuhan di lapangan cukup bagus. “Jadi kemungkinan petani merasakan peningkatan hasil dan dengan adanya kenaikan harga padi ini mereka akan merasakan peningkatan hasil penjualannya,” ujarnya.

Sementara konsumen di Bali lebih menyukai beras premium sehingga penjualannya pun tak jauh-jauh dari Bali. Setelah gabah dari petani terserap oleh perusahaan-perusahaan penggilingan di Bali lewat BumDes, beras dijual kembali di wilayah Bali.

Baca juga:  Petani Kakao Keluhkan Serangan Penyakit Geseng 

“BumDes memfasilitasi mereka dan BumDes juga beli sebagai stok karena terlalu banyaknya, BumDes mengajak kerjasama pengusaha-pengusaha yang bergerak di organik. Pengusaha itu ada dari Tabanan dan Bangli,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bulog Bali, Sony Supriyadi mengatakan, Bulog memang menjual beras premium namun Bulog menyediakan sesuai kebutuhan. Dengan demikian, relaksasi HET Beras Premium tak berdampak signifikan terhadap pasokan Bulog, meski tujuan dari relaksasi itu adalah untuk stabilisasi harga beras. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN