Warga Desa Tusan saat mengikuti simulasi pencoblosan. (BP/gik)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Sebagai implementasi sosialisasi pemilu serentak, KPU Klungkung melakukan simulasi pencoblosan, Selasa (9/4). Simulasi dipusatkan di TPS 006 Desa Tusan, Kecamatan Banjarangkan. Simulasi ini memperlihatkan banyak warga setempat nampak belum siap melakukan pencoblosan. Sebab, setelah menerima lima surat suara, rupanya masyarakat bingung saat berada di bilik suara, untuk menentukan pilihan presiden, DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten dan DPD Bali.

Ada sebanyak 295 pemilih di TPS tersebut. Proses simulasi dilakukan layaknya suasana TPS saat pencoblosan, dimulai dari pukul 07.00 wita sampai 13.00 wita. Setelah menerima surat suara dan masuk ke bilik suara, disinilah baru terlihat masyarakat bingung, karena membutuhkan waktu cukup lama untuk mencoblos. Sebagian besar warga mengaku kesulitan melihat gambar partai dan calegnya. Demikian juga tulisan pada surat suara, juga amat kecil-kecil. Ada juga yang mengaku kesulitan melipat kembali surat suaranya, karena ukurannya yang cukup besar.

Salah satu warga Wayan Rasni, mengakui sulit mencari nama caleg pilihannya, karena tulisannya dianggap terlalu kecil. Demikian juga Wayan Sarna, mengaku bingung saat berada di bilik suara. Gambar partai dan nama-namanya, dikatakan terlalu kecil. Padahal, setiap pemilu dia selalu menggunakan hak suaranya dengan mencoblos. Sehingga, mencoblos seharusnya bukan hal baru baginya. “Padahal sudah biasa mencoblos, tetapi sampai di bilik jadi tegang saat pegang lima surat suara. Saat buka jadi bingung karena hurufnya kecil-kecil sekali,” katanya.

Tidak hanya pemilih yang sudah berkali-kali memilih yang bingung, pemilih milenial di kalangan anak muda, rupanya juga menghadapi persoalan serupa. Salah satunya, Sang Ayu Made Ernita Sari, sebagai pemilih pemula, juga mengaku kesulitan melakukan pemilihan. “Simulasi saja sudah ruet, apalagi mencoblos beneran,” katanya.

Baca juga:  Plafon Ruangan Gedung DPRD Jebol

Salah satu Komisioner KPU Klungkung, Gede Suka Astreawan, menegaskan simulasi ini sebagai implementasi dari sosialisasi yang sudah berjalan hampir di seluruh Klungkung. Pihaknya ingin mengimplementasikan apa yang  diberikan pada saat bintek dan evaluasi, sejauh mana daya serap KPPS, PPK maupun PPS. Hasil sosialisasi ini memperlihatkan bahwa, masyarakat rata-rata membutuhkan waktu cukup lama di dalam bilik suara.  Lamanya di bilik suara, membuat total waktu yang dibutuhkan pemilih dari tiba di TPS sampai selesai memilih, bisa mencapai 45 menit sampai satu jam. “Target dari dipanggil hingga memilih paling lama 30 menit. Tadi nyatanya dari pendaftaran sampai pulang bisa 45 menit sampai 1 jam. Di dalam bilik saja, bisa lebih dari lima menit,” katanya.

Tidak hanya bingung saat memilih, usai mencoblos, banyak yang keliru dalam memasukkan surat suara sesuai warnanya. Padahal, sebelum memasukkan sudah dipandu oleh petugas PPS yang menjaga dan mengarahkan di sekitar kotak suara. Hasil ini sedikit menjadi catatan buruk, dimana proses sosialisasi KPU belum mampu memberikan pemahaman sepenuhnya kepada masyarakat dalam teknis memilih. Ini pula yang menjadi kekhawatiran banyak pihak, dengan sistem pemilu serentak ini, karena masyarakat di desa-desa nampak belum siap dengan sistem pemilihan seperti itu. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.