Gunung Agung. (BP/istimewa)

Oleh Agung Kresna

Tentu masih lekat dalam benak krama Bali, bagaimana erupsi Gunung Agung pada akhir tahun 2017 sempat membuat mati suri ekonomi Bali. Erupsi Gunung Agung yang saat itu hanya berlangsung dalam hitungan hari, nyatanya secara signifikan telah memberi dampak negatif atas kinerja ekonomi Bali di semua bidang; utamanya yang terkait secara langsung ataupun tidak dengan dunia pariwisata.

Bayangkan jika erupsi Gunung Agung berlangsung berbulan-bulan sebagaimana yang terjadi pada Gunung Sinabung. Apa yang bakal terjadi dengan ekonomi Bali. Harus ada mesin ekonomi alternatif bagi Bali.

Data selama ini menunjukkan bahwa hampir 70 % pertumbuhan ekonomi Bali didorong oleh industri pariwisata yang merupakan sektor tersier. Sementara, industri pertanian sebagai sektor primer hanya menyumbang sekitar 14 % dalam pertumbuhan ekonomi Bali. Realitas ini memperlihatkan lemahnya kekuatan ekonomi alternatif di luar industri pariwisata yang selama ini masih menjadi andalan ekonomi Bali. Struktur ekonomi Bali harus dibangun secara seimbang di semua sektor potensial yang sudah dimiliki krama Bali.

Rontoknya tingkat kunjungan wisatawan pada event tahun baru di kawasan wisata Pantai Carita Banten dan Ancol Jakarta pasca-adanya tsunami Selat Sunda, mestinya menjadi catatan para pemangku kepentingan kebijakan ekonomi. Hal ini terjadi akibat para calon wisatawan khawatir akan munculnya bencana susulan.

Gunung Agung yang kembali erupsi akhir-akhir ini juga harus menjadi sinyal bagi para penentu kebijakan ekonomi Bali. Karena perlu diwaspadai bahwa Gunung Agung hingga saat ini masih belum sepenuhnya menuntaskan lava dari kandungan magma yang ada.

Sementara itu, realitas setelah erupsi Gunung Agung mereda pada awal 2018 dan secara perlahan laju ekonomi Bali kembali pulih dengan berdatangannya para wisatawan ke Bali, tidak ada terobosan baru dalam menata struktur ekonomi Bali sepanjang tahun 2018. Efek negatif erupsi Gunung Agung bagai terlupakan.

Perekonomian Bali kembali berjalan dengan tetap mengandalkan pada sektor industri pariwisata, tanpa ada upaya serius memberdayakan sektor-sektor lain di luar industri pariwisata.

Jika belajar dari dampak negatif erupsi Gunung Agung yang lalu, maka struktur ekonomi Bali tidak boleh hanya bergantung sepenuhnya pada industri pariwisata. Pariwisata sangat rentan dari gangguan bencana alam yang tidak bisa kita prediksi kapan datangnya, seperti bencana gempa bumi, tsunami, puting beliung, maupun erupsi gunung berapi. Manajemen risiko (risk management) sebagaimana tertuang dalam Dimensi Ketiga pada tatanan kehidupan holistik Bali Era Baru, menjadi kata kunci. Krama Bali harus memiliki cukup kesiapan dalam mengantisipasi munculnya permasalahan dan tantangan baru.

Redesain Ekonomi Bali

Roda perekonomian Bali tidak boleh terhambat oleh munculnya gangguan bencana alam yang tidak dapat kita prediksi datangnya. Harus ada pilar ekonomi lain sebagai katup penyelamat ekonomi Bali. Sebagaimana Indonesia pernah diselamatkan oleh kehadiran katup ekonomi sektor informal dalam krisis ekonomi 1998 yang melanda segenap korporasi Indonesia. Banyak pengamat ekonomi internasional saat itu yang memprediksi bahwa Indonesia sulit keluar dari jurang krisis ekonomi, karena hanya melihat Indonesia dari sisi ekonomi korporasi.

Baca juga:  Ribuan Pengungsi di Buleleng Pulang

Gelimang dolar dalam industri pariwisata Bali memang telah menyilaukan banyak pihak, sehingga seakan hanya bidang pariwisata yang dapat diandalkan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Bali. Akibatnya, justru kita melupakan sektor ekonomi potensial yang sebenarnya telah dimiliki krama Bali secara turun-temurun, serta menjadi ladang kehidupan ekonomi keseharian nenek moyang krama Bali.

Sebelum industri pariwisata merebak di seantero Bali, sebenarnya krama Bali sudah memiliki ladang perekonomian di bidang pertanian dan ekonomi kreatif/handicraft. Mesin ekonomi inilah yang harus diberdayakan dalam mendesain ulang struktur ekonomi Bali melalui beberapa langkah berikut ini.

Pertama, pariwisata harus dianggap sebagai bonus dalam mesin ekonomi Bali. Hal ini melihat realitas bahwa industri pariwisata adalah resultan dari daya tarik di bidang budaya dan pertanian Bali yang telah hadir terlebih dahulu sebagai penggerak roda ekonomi krama Bali. Secara nominal, bidang pariwisata memang mendatangkan keuntungan cukup besar. Namun, rentan terhadap gangguan bencana dan fluktuasinya kadang sulit diprediksi.

Kedua, memperkuat sektor ekonomi kreatif sebagai alternatif pilar ekonomi Bali. Keterampilan krama Bali di sektor ini sudah tidak perlu diragukan lagi. Ribuan krama Bali menyandarkan roda ekonomi keluarga mereka di bidang ini. Hanya, saat ini mereka harus melakukan adaptasi secara cepat dan cerdas atas masifnya pergerakan ekonomi digital yang berlangsung secara global. Menjadi tugas pemerintah sebagai regulator dan fasilitator krama Bali agar sektor ini dapat menjadi pilar ekonomi Bali yang tangguh dalam menjaga keseimbangan ekonomi Bali.

Ketiga, optimalisasi bidang pertanian krama Bali sebagai pilar ekonomi Bali. Pertanian adalah potensi ekonomi yang luar biasa di masa depan. Harus ada perubahan paradigma dalam melihat pertanian. Pertanian harus digarap dengan sentuhan teknologi tinggi, sejak pembibitan, penanaman, hingga pascapanen.

Pertanian harus digarap sebagai farming, tidak boleh hanya dimaknai sebagai agriculture. Sehingga tercakup bidang agriculture farm (bercocok tanam), dairy farm (berternak penghasil susu, keju), fish farm (bertambak ikan), maupun poultry farm (berternak unggas). Pertanian Bali harus dikerjakan dalam pola industrial farming.

Nyatanya saat ini saja kebutuhan krama Bali atas sarana upakara yang demikan besarnya dan utamanya berupa produk hasil pertanian, belum sepenuhnya dapat dipenuhi dari bumi Bali sendiri. Sebagian masih perlu didatangkan dari luar Pulau Bali. Di sini ada potensi ekonomi cukup besar yang sebenarnya dapat diraup oleh krama Bali dalam upaya memenuhi kebutuhan rutin kehidupan mereka sendiri.

Menyongsong Bali Era Baru harus kita sikapi dengan menata ulang struktur ekonomi Bali agar tidak hanya bertumpu pada satu sektor ekonomi. Harus ada sektor ekonomi di luar pariwisata, yang diberdayakan sebagai mesin ekonomi alternatif sebagai penyangga keseimbangan ekonomi bagi Bali. Sehingga pada saat pilar utama ekonomi Bali mendapat gangguan, roda ekonomi krama Bali tetap dapat berputar dan tidak mengganggu periuk nasi segenap krama Bali.

Penulis, arsitek, Senior Researcher pada Centre of Culture & Urban Studies (CoCUS) Bali, tinggal di Denpasar

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.