Ilustrasi. (BP/Dokumen Swara Tunaiku)

DENPASAR, BALIPOST.com – Mungkin perihal mengatur keuangan terlihat sepele. Tapi faktanya tidak semudah itu. Tengoklah bagaimana keseharianmu sendiri. Apakah kamu sudah disiplin ketika mengatur keuangan? Lebih banyak dana untuk presentasi, hangout atau untuk ditabung?

Kalau ternyata uangmu lebih banyak digunakan untuk main-main, maka bisa dikategorikan belum bisa mengatur keuangan. Bagaimanapun juga, kemampuan dalam mengatur keuangan itu selalu dibutuhkan oleh masing-masing orang. Memang sih untuk membina kemampuan tersebut tidaklah spontan dan perlu disiplin tingkat tinggi sejak dini.

Oleh karena itu, penting sekali bagi orang tua untuk mengenalkan kebiasaan mengatur keuangan pada anak. Dilansir dari Swara Tunaiku, berikut tips-tipsnya.

1. Mulai dengan percakapan soal uang

Lakukan tips ini minimal ketika si anak sudah berusia 5 tahun atau bisa juga ketika mereka lagi asyik belajar berhitung. Dengan adanya pembicaraan tersebut, si anak pun lebih tahu kalau mengatur keuangan itu sangat penting. Coba lakukan uji coba kepada si anak yang menempatkan ia di posisi “mengeksekusi keputusan”. Apakah mau menyimpan uang atau menggunakannya.

2. Menekan keinginan dan sesuaikan dengan kebutuhan

Begitu si anak tahu fungsi uang untuk beli sesuatu, maka keinginan untuk beli terus bertambah. Di sinilah peran orang tua untuk menjelaskan perbedaan yang besar antara keinginan dan kebutuhan. Misalnya si anak lagi sekolah, maka kebutuhannya tentu seputar buku tulis, pulpen, pensil, dan lainnya. Sedangkan keinginannya berupa mainan dan jajan.

3. Gunakan waktu untuk berdiskusi dengan anak

Dalam waktu-waktu tertentu, gunakan kesempatan untuk membicarakan caramu mengatur keuangan per bulan. Bisa dengan mengajak pasangan, bisa pula langsung ke si anak. Intinya, biar dia lebih mengenali cara-cara menggunakan keuangan serta cara menghematnya. Tapi jangan berlebihan agar dia tidak merasakan kecemasan yang mungkin timbul dari pembicaraan tersebut.

4. Jelaskan cara transaksi

Memperkenalkan caranya bertransaksi pada anak juga sangat penting. Ketika kamu pergi belanja, ajaklah ia. Ketika tiba waktunya membayar, berilah kesempatan untuk si anak agar belajar caranya membayar. Dengan perkenalan tersebut, anak bisa lebih memahami bahwa ternyata uang merupakan salah satu media untuk bertransaksi yang sah di negara.

Baca juga:  Ingin Investasi? Ini Tiga Hal Tentang Beta Saham Wajib Dipahami

5. Berikan uang saku dan ajari cara menabung

Ketika fungsi uang sudah ia pahami, berilah beberapa uang saku dan perhatikan bagaimana cara ia mengelola keuangannya sendiri. Umumnya, praktik lebih memberi manfaat ketimbang hanya sekadar teori atau pendahuluan. Ketika anak membelanjakan uangnya, ajarkan bagaimana caranya menabung dari sisa uang tersebut.

Jadi, anak tidak bingung dengan sisa uang yang mau dipakai untuk apa. Untuk menjembatani kepentingan tersebut, sebaiknya kamu beli celengan. Ingatkan terus agar selalu terpikirkan untuk menabung sampai betul-betul terbiasa. Ketika sudah penuh, ucapkan selamat atau berilah penghargaan agar di kemudian hari, ia lebih menghargai uangnya sendiri.

6. Ajarkan tentang beramal

Beri tahu pada anak, bahwa fungsi uang bukan hanya untuk ditabung atau dibelanjakan, tetapi juga bisa digunakan untuk beramal. Berilah kesempatan pada anak untuk ikut atau berpartisipasi dalam agenda menyumbang untuk kegiatan sosial. Baik lewat kotak amal atau memberikan secara langsung pada orang-orang yang membutuhkan.

7. Berilah contoh yang baik

Sebagai orang tua, sudah sepatutnya teladan dipraktikkan secara langsung. Biar anak memahami dalam bentuk tindakan, bukan sekadar teori. Bagi yang belum terbiasa, mungkin terasa berat. Ingat, bahwa anak merupakan titipan yang harus dijaga baik-baik agar kelak saat dewasa ia mampu memberi teladan pada keturunannya.

Itulah 7 cara mengenalkan cara mengatur uang serta memberi teladan yang baik pada anak. Lakukan secara rutin karena pendidikan terbaik untuk anak setidaknya sampai ia berusia 20 tahun. Soalnya ketika masih berada di bawah 20 tahun, umumnya anak belum bisa memutuskan pilihan hidupnya. Berbeda ketika sudah berusia 20 tahun ke atas. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.