Petugas BUMDes Gumbrih memilah sampah yang bisa dijual. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Sampah rumah tangga yang sering menjadi persoalan ditangkap positif oleh desa Gumbrih, Kecamatan Pekutatan. Sampah yang biasanya dibuang langsung ke TPA, dijadikan bisnis melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat.

Unit usaha sampah ini mulai berjalan sejak dua bulan terakhir. “Awalnya memang hanya simpan pinjam dan perdagangan, tapi sekarang kami merambah ke sampah rongsokan juga,” tandas Perbekel Gumbrih, I Ketut Nurjana.

Menurutnya unit usaha ini merupakan cikal bakal untuk pengolahan sampah di tingkat desa nantinya. Sampah-sampah yang masih bisa dijual misalnya botol, kardus, plastik dan lain-lain atau rongsokan yang menjadi sasaran.

Selanjutnya hasil dari sampah rongsok di desa itu, dijual ke pengepul rongsok dari Desa Medewi, Pekutatan. Dalam operasionalnya sehari-hari, BUMDes mempekerjakan dua orang warga setempat yang berkeliling mengumpulkan rongsok itu dari rumah-rumah warga.

Dua orang pekerja ini, menurutnya, baru mendapatkan penghasilan berdasarkan persentase hasil penjualan rongsokan. Namun tahun depan, akan dianggarkan khusus upah untuk tenaga pungut rongsok ini. “Tahun depan selain upah tetap, juga dari persentase. Mereka kita berdayakan karena sampah ini juga menghasilkan,” tandas Nurjaya.

Dari bisnis sampah rongsok ini nantinya diharapkan berkembang adanya unit usaha pengolahan sampah. Tetapi hal ini menurutnya masih bertahap.

Baca juga:  Lestarikan Budaya, Ini Dilakukan Pecinta Perkutut

Kemauan untuk mengelola sampah sudah muncul. Dan warga juga diharapkan sudah terbiasa untuk memilah sampah. Antara sampah organik dan anorganik dipilah, termasuk yang masih bernilai ekonomis.

Selain unit usaha sampah rongsok ini, BUMDes juga menjalankan unit usaha lainnya seperti simpan pinjam dan perdagangan (toko). Untuk perdagangan menurutnya sengaja ditempatkan di sebelah kantor desa. Toko tersebut juga melayani keperluan sehari-hari masyarakat.

Namun yang saat ini fokus dikembangkan adalah usaha sampah rongsok itu. Desa Gumbrih yang merupakan salah satu desa wisata di Jembrana sangat penting menjaga kebersihan sehingga perlu pengelolaan sampah.

Sementara itu sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Jembrana, I Gusti Ngurah Sumber Wijaya mengatakan dari 41 BUMD yang tersebar dari Melaya hingga Pekutatan, sekitar 39 yang berjalan aktif.  Diakui sebagian besar masih berkutat dengan usaha simpan pinjam.

Namun menurut arahan Bupati Artha dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa), BUMD tidak hanya fokus usaha simpan pinjam saja. “Boleh (simpan pinjam) tapi prosentase kecil. Karena itu kami arahkan agar mengembangkan usaha lain dengan melihat potensi desa,” tandasnya. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.