Pataka I Gusti Ngurah Rai diarak serangkaian peringatan Hari Pahlawan dan Puputan Margarana. (BP/dok)

November bagi kita merupakan bulan istimewa. Ada beberapa peristiwa penting di dalamnya. Tidak hanya karena diperingati dan dirayakan, tetapi lebih jauh daripada itu adalah bagaimana memahami, meresapi kemudian menerapkan nilai-nilai yang telah dipahatkan itu. Dua di antara peristiwa penting itu adalah pada 10 November yang dirayakan sebagai Hari Pahlawan serta 20 November yang oleh masyarakat Bali diperingati sebagai Hari Puputan Margarana.

Dua peristiwa nan epik dan heroik. Yang pertama bagaimana hebatnya perjuangan arek-arek Suroboyo yang menantang kehadiran pasukan Sekutu dan yang kedua adalah bagaimana teladan soal patriotisme yang diajarkan oleh I Gusti Ngurah Rai dan pasukannya. Tentu, peringatan serta perayaan tidak berakhir di situ. Ada benang merah, ada substansi yang mesti dipahami dan diamalkan oleh generasi milenial saat ini. Pewarisan nilai-nilai kepahlawanan serta cinta Tanah Air itu adalah mutlak.

Ada berbagai cara yang dipakai. Lewat seremonial yang bisa membangkitkan semangat kebangsaan, lewat proses edukasi, serta lewat duplikasi. Yang terakhir inilah, yang mesti digarap. Mereka ini tentu tidak mesti memangul senjata mengusir musuh lewat berperang. Mereka melawan musuh yang cenderung ada di dalam diri mereka sendiri. Bagaimana menguatkan mental serta semangat kebangsaan. Ini yang harus dikobarkan terus.

Menyemangati mereka tentu saja harus timbal balik. Tidak hanya mereka yang mesti disuruh semangat. Para generasi lama pun mesti mengajarkan contoh kepada mereka yang zaman now ini. Contoh yang baik, contoh yang benar, dan contoh yang mampu membuat bangga. Tidak adil kalau generasi sekarang saja yang dituntut macam-macam sedangkan tidak ada imbal baliknya.

Baca juga:  Menengok ke Masa Lalu

Mesti ada banyak yang dicontoh. Mesti banyak yang membuat bangga dan meniru. Membuat duplikasi hal-hal yang terkandung dalam dua peristiwa heroik itu. Hal-hal yang membuat bulu kuduk mereka berdiri saat menyebutkan nama Indonesia. Ada sesuatu yang membuat mereka bergetar ketika menatap Sang Saka Merah Putih.

Saat ini, ketika disuguhkan beberapa contoh buruk dari generasi yang semestinya mereka tiru, ya ini masalah besar. Masalah besar bagi bangsa ini. Bagaimana mereka meneruskan tradisi kepahlawanan sementara banyak hal yang mereka tonton belakangan ini?

Masalah korupsi, petinggi pemerintahan dan parpol yang rajin ke KPK dan kemudian masuk bui, pertikaian politik yang tidak berujung, masalah SARA dan sebagainya. Ini masalah pelik dan mesti dituntaskan. Mari, para pemuka masyarakat, pemuka agama, tokoh politik dan sebagainya, berikan mereka contoh bagus. Mereka masih perlu bimbingan di tengah situasi disrupsi ini.

Pahlawan telah menitipkan Tanah Air ini kepada mereka. Mari kita serahkan dalam kondisi yang utuh. Kalau bisa jauh lebih baik ketika kita menerimanya dari para pejuang tangguh itu yang rela menumpahkan air mata darah hanya untuk tegaknya Tanah Air, bangsa, dan republik ini.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.