DLHK Badung melakukan sidak di sejumlah perusahaan terkait pengolahan limbah. (BP/istimewa)

MANGUPURA, BALIPOST.com – DLHK Badung menggelar sidak untuk mengecek pengelolaan limbah di wilayah kerjanya. Hasilnya ada dua perusahaan yang pengolahan limbahnya belum sesuai prosedur.

Kedua perusahaan ini, kata Kepala DLHK Badung, Putu Eka Merthawan, adalah Aerofood ACS dan Aphic Catering. Ia mengatakan hasil temuan saat sidak ke lokasi, Senin (1/10), ACS dan Aphic diketahui belum mengelola limbah sesuai prosedur yang berlaku.

Memang diakuinya ACS sudah membuat pengolahan limbah yang bagus, namun outputnya belum memenuhi syarat. Menurutnya, limbah yang sudah diolah oleh pihak ACS memang akan dialirkan ke got yang bermuara di mangrove sebelah Timur. Namun akibat drainase yang dimiliki kurang bagus, air limbah tergenang.

Permasalahan serupa juga dialami oleh Aphic Catering. “Pihak ACS masih membuang limbah ke media lingkungan. Namun, akibat dainasenya jelek air limbah yang dibuang malah menggenang dan menimbulkan bau,” katanya.

Sebelumnya, kata Merthawan, tim Buru Sergap Perusak Lingkungan (Brusli) DLHK Badung sudah sempat turun ke lokasi pada Jumat (28/9). Dengan permasalahan ini, pihak DLHK meminta pihak ACS dan Aphic untuk stop membuang limbah ke media lingkungan.

Baca juga:  Fenomena Baru, Pantai Nusa Dua Diserbu Sampah Eceng Gondok

Mereka diminta untuk menyedot sendiri dan membuang limbah ke tempat pengolahan limbah. “Solusi jangka pendek, mereka kami minta untuk menyedot limbah yang dibuang ke media lingkungan untuk mengatasi genangan,” ucapnya.

Dikatakan, pihak DLHK akan kembali melakukan pertemuan untuk membahas solusi jangka panjang dengan pihak terkait pada Selasa (2/10). Terhadap permaslahan ini, pihaknya berharap pengolahan limbah kedua perusahaan ini agar digabung dengan IPAL milik AP 1.

Dikonfirmasi terpisah, Communication Head and Legal Section Head Bandara Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim menyampaikan, memang dulu ACS dan Aphic Catering memiliki saluran pembuangan masing-masing. Untuk itu, AP 1 sudah mengakomodir ke pembuangan saluran pipa utama.

Ini dilakukan agar saluran pembuangannya tidak masing-masing dan agar tidak kemana-mana. “Dari AP 1 akan mengecek lagi seperti apa yang disampaikan oleh DLHK. Yang sering luput selama ini adalah kewajiban dari mitra kerja/usaha untuk menjaga kualitas dari output pengolahan limbahnya,” pungkas Arie. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.