Deretan perahu milik nelayan terparkir di pesisir Pantai Ujung. (BP/kmb)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Pantai Ujung sepanjang Selasa (24/7) dipenuhi jukung-jukung nelayan. Para pemiliknya memilih tidak melaut karena kondisi cauca dan ombak di perairan Selat Lombok belum bersahabat.

“Ombak masih besar, angin selatan juga kencang,” ujar Nurfiah (54), satu dari sekitar 300 nelayan di Pantai Ujung, Desa Tumbu, Kecamatan karangasem.

Pria asal Banjar Ujung Pesisi mengatakan ombak besar sudah berlangsung sebulan terakhir. Puncaknya pada Selasa (17/7), saat itu ombak naik sampai ke tempat sandaran jukung hingga mengakibatkan dua buah jukung rusak.

Sejak cuaca tak bersahabat, dia mengaku sama sekali belum sempat melaut. Untuk mengisi waktu luang, dia membantu istrinya mengurus warung di Pantai Ujung. “Sudah mulai tua, tidak sekuat dulu. Yang lain ada yang ke sawah, tapi sebagian besar hanya berdiam di rumah,” katanya.

Menurut Nurfiah, tidak semua nelayan di Pantai Ujung punya pekerjaan sampingan. Hanya sebagian kecil juga terjun bertani, itupun hanya sebagai petani penggarap. Beberapa nelayan yang tak punya pekerjaan sampingan, selama cuaca buruk tetap memaksakan diri melaut. “Tadi pagi ada 10 nelayan yang naik. Berangkatnya empat pagi, tadi jam delapan sudah pulang. Ada yang dapat ada yang tidak,” jelasnya.

Dalam kondisi cuaca seperti sekarang ini, tantangan nelayan bukan hanya gelombang tinggi dan omba besar. Nurfiah mengaku enggan melaut juga karena biasanya tangkapan sangat minim. Ketika cuaca bagus biasanya masing-masing nelayan bisa dapat 10 baskom ikan, tapi ketika cuaca buruk, empat baskom sudah sangat lumayan.

Baca juga:  Soal Keluhan Nelayan, Dewan Akan Pertanyakan ke KKP

Kondisi itu pula yang mengakibatkan harga ikan tongkol yang menjadi hasil utama nelayan Ujung sekarang cukup mahal harganya. Per ekor berkisar Rp 5.000 sampai Rp 6.000.

Nurfiah mengatakan nelayan memang tidak bisa melaut sepanjang tahun. Antara Juni sampai Agustus kondisi cuaca dan perairan memang akan tidak bersahabat seperti kondisi sekarang ini. Kalaupun nekat melaut di bulan-bulan tersebut, nelayan umumnya punya patokan sendiri selain informasi cuaca dari BMKG. “Sekarang kan musimnya angin selatan, angin dari laut lepas. Kita biasanya melihat mendung. Kalau di atas Pulau Nusa Penida dan di Bangka-bangka (di wilayah Lombok, red) mendungnya tebal, anginnya pasti kencang,” ungkapnya.

Kondisi cuaca yang membahayakan membuat nelayan di wilayah Karangasem hanya bisa pasrah. Mereka hanya bisa menunggu datangnya angin barat. Jika melihat pengalaman, Nurfiah mengatakan cuaca buruk baru akan berakhir pada akhir Agustus nanti. “Kalau sudah angina barat berarti sudah masuk Sasih Kapat (bulan keempat dalam kalender Bali-red). Saat itu sudah mulai angin barat, lautnya tenang tak ada angin kencang,” pungkasnya. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.