Kekeringan melanda sejumlah subak di wilayah Kecamatan Mendoyo. (BP/kmb)

NEGARA, BALIPOST.com – Sejumlah sawah mengalami kekeringan akibat bendungan irigasi di Kecamatan Mendoyo Jembrana debit airnya menurun. Sawah yang mengalami kekeringan yakni di Subak Babakan Mendoyo dan subak Lanyah  Mendoyo, yang terletak  di Desa  Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo.

Penurunan debit air, yang sudah berlangsung sejak sebulan ini, terjadi di Bendungan Yeh Mekecir, yang mengairi sekitar 100 hektar sawah di Subak Babakan. Untuk Subak Lanyah Mendoyo, para petani mengandalkan sumber air dari Bendungan Sebual, yang mengairi lebih dari 120 hektar sawah.

Penurunan debit air di kedua bendungan tersebut, sudah tidak bisa lagi naik ke saluran irigasi maupun sawah petani di kedua subak itu. Kondisi ini terjadi sejak mulai musim tanam, awal bulan lalu.

Akibatnya sawah yang sudah ditanami padi sebagian sudah  mengering, sebagian lagi  masih bertahan lantaran ditopang pengairan dari sumur pompa oleh krama subak.  Dari informasi Selasa (19/6) hektaran  sawah di Subak Babakan Mendoyo dan subak  Lanyah Mendoyo, yang hanya dipisahkan Jalan Raya Denpasar Gilimanuk, tampak  kering.

Demikian juga tanaman padi, sebagian tampak meranggas. Saluran irigasi, yang mengairi persubakan itu, semuanya tampak kering. Di Bendungan Yeh Mekecir dan  Bendung Sebual, batas air dibawah rata- rata batas maksimum, 0 meter.

Salah seorang petani di Subak Layah Nyoman Wrrden (55) mengatakan di hulu sudah tidak ada air, sehingga sawah kekeringan. Menurut petani asal Banjar Sebual, Dangin Tukadaya ini, kekeringan yang melanda sawahnya,  akibat dampak kemarau.

Dikatakan hujan sudah tidak turun lagi sejak dua bulan terkhir ini sehingga air sungai di bendungan Sebual, mengecil. Bahkan air tidak mengalir dan tidak bisa naik sehingga berimbas ke seluruh sawah disubak tersebut.

Baca juga:  Kekeringan, Petani Terancam Gagal Panen

Menurut Werden, luasan sawah mencapai 100 hektar karena letak subak di dua wilayah  yaitu Mendoyo Dangin Tukad dan Desa Dangin Tukadaya sejak musim taman sebulan lalu, sawah ditanami padi, sebagian karena kekurangan air.

Sawah sudah mulai pecah- pecah termasuk tanaman padi berusia kurang dari sebulan, mulai layu dan mati. Sedangkan yang sawahnya masih bertahan karena mengandalkan bantuan air dari sumur pompa/bor, tentunya dengan biaya tambahan untuk menaikkan air ke sawah.

Menurutnya jika sampai sebulan hujan tidak  kunjung turun dipastikan, tanaman padi akan mati, termasuk gagal dan petani merugi. Dia berharap adanya pemerataan penempatan sumur bor di subaknya.

Di subak Babakan Mendoyo, sebagian sawah  yang berada didataran lebih tinggi, sudah kering. Sedangkan yang didataran rendah masih tampak menghijau.

Demikian pula, yang jauh dari bendungan dan saluran utama maupun sumur bor, tampak meranggas dan kering kerontang.  Salah satu krama subak Wayan Swijapa, (54) hujan sudah sebulan tidak kunjung turun, padahal petani baru memulai  menanam padi sekitar dua pekan.

Namun lantaran musim tanam barengan dengan memasuki musim  kemarau, air di bendungan Yeh Mekecir, sudah tidak mampu mengalir ke sawah. Dampaknya sebagian sawah sudah mulai retak, bahkan tanaman padi tampak menguning dan layu.

Petani mengandalkan air dari bendungan Yeh Mekecir, namun bersamaan pula musim kemarau berlangsung, karena hujan tidak kunjung  datang akibatnya sekitar 120 hektar sawah terancam gagal panen.

Tanaman padi yang masih perlu air, dipastikan bakal gagal panen. Diakui Swijapa, tanaman padi sebagian sudah terlihat layu, petani sudah mencoba menangulanginya dengan mengambil air dari sumur bor di sekitar sawah namun kemampuan petani berbeda-beda, sehingga keadaan tidak akan berdampak pada hasil panen. (kmb/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.