DENPASAR, BALIPOST.com – Rentetan aksi teroris beberapa hari terakhir khususnya di Jawa Timur, membuat Polda Bali semakin meningkatkan kewaspadaan. Penebalan jumlah personel dilakukan terutama di pintu masuk Bali dan kantor polisi. Krama Bali juga diminta lebih peka terhadap perkembangan situasi lingkungannya karena Bali berpotensi jadi sasaran teroris.

Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol. Hengky Widjaja saat dikonfirmasi mengatakan, penutupan tersebut bukan karena kejadian di Mapolrestabes Surabaya, tapi uji coba apabila situasi meningkat sehingga ditutup. Kebetulan saat itu berlangsung video conference (vicon) pejabat utama Polda Bali dan kapolres dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian. “Hasil evaluasi ternyata pengalihan arus lalin ke barat Mapolda (Jalan Seruni) malah menyulitkan pengawasan kita. Akhirnya vicon selesai, jalan dibuka. Bukan berkaitan dengan kejadian di Surabaya,” tegasnya.

Menurut Kabid Humas, saat ini Bali masih kondusif. Pihaknya sudah lima hari melaksanakan Siaga I. Namun ia mengimbau masyarakat Bali tetap waspada. “Kita tidak berharap hal-hal yang terjadi atau peristiwa di Jakarta dan Surabaya. Pengerahkan dua per tiga kekuatan untuk meningkatkan patroli, pengamanan di mako, rumah dinas dan tempat umum seperti obyek wisata serta kantor konsulat,” ungkap Hengky Widjaja.

Baca juga:  Aniaya Pemotor, Debt Collector Mengaku Anak Tentara Ditangkap

Mantan Kabag Binkar Karo SDM Polda Bali ini mengimbau kepada masyarakat tetap tenang dan waspada. Apabila menemukan ada hal-hal mencurigakan segera dilaporkan, jangan langsung bertindak sendiri. “Kami juga punya aplikasi Salak Bali silahkan digunakan. Terkait berita-berita hoax, jangan langsung diberitakan atau di-share. Kalau smapai menyebar berita hoax sama jaga menebar kecemasan. Sikahkan tanyakan kepada kami terkait benar atau tidak berita di medsos,” ujarnya.

Apakah Bali masih target teroris? “Potensi itu selalu ada, seluruh Indonesia juga ada. Kita sudah antisipasi mulai pintu masuk barat dan timur Bali. Terhadap Desa Pakraman, masyarakat paling tidak bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Desa Pakraman bisa memperingati warganya agar tetap tenang, tapi tetap waspada,” ungkapnya.

Apabila menemukan seseorang dengan gerak-gerik mencurigakan, segera laporkan kepada kepolisian. “Jangan sampai salah bertindak, lalu dipelintir jadi isu radikalisme dan SARA. Itu jauh berbahaya. Tidak usah ambil resiko, silahkan laporkan ke polisi. Sekali lagi apabila tidak mau ke kantor polisi, manfaatkan aplikasi Salak Bali pasti ditidaklanjuti,” tegasnya. (Kerta Negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.