SURABAYA, BALIPOST.com – Keterlibatan anak-anak dalam dugaan bom bunuh diri yang berlangsung di GKI Diponegoro, Jl. Diponegoro disayangkan sejumlah pihak. Diduga dalam peristiwa yang menewaskan pelaku bom bunuh diri itu, Minggu (13/5), dua masih anak-anak.

Menurut anggota Komisi A DPRD Jatim, dr. Benyamin, keterlibatan anak-anak di dalam aksi bejat ini tidak bisa diterima. Ia menyayangkan aksi yang melibatkan anak-anak tersebut.

Bahkan, menurut informasi yang diterimanya, anak-anak tersebut tubuhnya dililiti bom yang akhirnya meledak dan menewaskan pelaku. “Kenapa anak-anak ikut dilibatkan? Memangnya mereka tahu apa?,” katanya menyayangkan keterlibatan anak-anak dalam peristiwa itu.

Ia masuk dalam Komisi A DPRD Surabaya yang membidangi masalah keamanan mengutuk aksi pengeboman di 5 lokasi. Ia pun meminta agar masyarakat tidak cemas. “Mereka (para pelaku teror, red) senang jika masyarakat cemas, untuk itu masyarakat kami minta untuk tetap tenang,” imbaunya.

Baca juga:  Pengeboman di Surabaya, 11 Tewas dan 41 Luka-luka

Ia pun meminta masyarakat memercayakan penyelesaian kasus ini pada aparar keamanan. Terlebih, kini aparat kepolisian sedang bekerja untuk melakukan penyelidikan terkait kasus ini.

Sebelumnya, ledakan yang diduga bom bunuh diri terjadi di Surabaya. Dalam waktu hampir bersamaan, ada tiga gereja besar yang menjadi TKP ledakan.

Tiga lokasi ledakan itu menurut data kepolisian, terjadi tepat di depan gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, GKI Diponegoro di jalan Raya Diponegoro, dan di Gereja Pantekosta (GPPS) di jalan Arjuno.

Dari update terbaru pihak kepolisian, korban tewas bom gereja di Surabaya terus bertambah. Untuk sementara, ada 9 orang tewas dan 40 luka-luka. “Untuk saat ini ada 9 orang meninggal dunia. Untuk luka-luka ada 40 orang,” tutur Kabid Humas Polda Jatim Kombes Frans Barung Mangera. (Bambang Wili/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.