XL Axiata bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT) mengembangkan program Sisternet. (BP/ist)

BANTEN, BALIPOST.com – Program Sisternet diluncurkan XL Axiata bekerjasama dengan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Transmigrasi Republik Indonesia (Kemendes PDTT). Tujuannya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat di wilayah pedesaan dalam memanfaatkan keunggulan teknologi internet cepat dan media sosial (medsos) guna meningkatkan produktivitas ekonomi.

Implementasi program kerjasama ini diawali di Pandeglang, Banten, (17/4), dengan sebuah lokakarya atau workshop calon pengelola Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) daerah tertinggal dari Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak. Hadir dalam acara ini antara lain Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, Bupati Pandeglang, Irna Narulita, dan Group Head Corporate Communications PT. XL Axiata, Tbk, Tri Wahyuningsih dan Direktur Pengembangan SDM Ditjen PDT Kemendesa Priyono.

Group Head Corporate Communications PT. XL Axiata, Tbk, Tri Wahyuningsih mengatakan XL Axiata sejak awal berkomitmen untuk membantu pemerintah dalam menyiapkan masyarakat dalam memasuki era digital. “Hal itu kami wujudkan dengan terus memperluas wilayah layanan data dan internet cepat 4G hingga ke pelosok-pelosok daerah di hampir seluruh provinsi Indonesia. Selain itu, kami juga menggelar program-program yang bersifat memperluas kapasitas masyarakat dalam memanfaatkan internet untuk tujuan produktif,” katanya.

Baca juga:  XL Selesaikan "Refarming" 2100 MHz Lebih Cepat

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal, Samsul Widodo, mengatakan saat ini terdapat 122 daerah tertinggal di Indonesia. Diperlukan strategi untuk percepatan pembangunan daerah tertinggal, salah satunya melalui pengembangan perekonomian masyakakat.

Percepatan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat di daerah tertinggal ini tidak dapat dilakukan dengan cara biasa, diperlukan implementasi teknologi dan inovasi. “Termasuk untuk membuka jaringan pemasaran di daerah teringgal. Untuk itulah pengembangan ekonomi digital perlu diterapkan pada daerah-daerah tertinggal ini.”

Samsul menambahkan, saat ini, sebanyak 143,26 juta jiwa, atau 54,68% dari 262 juta penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Pada Januari 2018, jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai 130 juta akun sehingga menempatkan Indonesia sebagai negara pengguna Facebook terbesar ke-4 di dunia.

Sebesar 97% di antaranya merupakan pengguna Facebook yang aktif melalui smartphone. Artinya Indonesia merupakan ‘Pasar Besar’ untuk menjadi sasaran pemasaran hasil produk unggulan daerah secara online, termasuk produk unggulan di daerah tertinggal.

Melalui pengembangan digital ekonomi, masyarakat di daerah tertinggal dapat langsung berjualan secara online. Hal ini akan membuka link antara desa-desa di daerah tertinggal dengan kota-kota pusat pertumbuhan melalui teknologi informasi. (Diah Dewi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.