Umat Hindu melakukan persembahyangan ke Pura Rambut Siwi. (BP/olo)

NEGARA, BALIPOST.com – Pura Luhur Dangkhayangan Rambut Siwi yang terletak di Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Bali merupakan salah satu destinasi wisata spiritual andalan di ujung Barat pulau Bali. Pura yang berada di lereng tebing Pantai Rambut Siwi ini menjadi destinasi wisatawan lokal maupun mancanegara.

Panorama pantai, persawahan dan pegunungan di Yehembang menjadikan kawasan ini bukan saja elok dipandang namun juga mengangkat vibrasi kesucian pura tersebut. Dalam kurun waktu 20 tahun ini, Pura Dang Khayangan yang memiliki dua Pura utama serta tujuh Pura Pesanakan ini mengalami beberapa kali perbaikan dan penataan areal Pura.

Posisi pura yang berada di sekitar lereng tebing pantai ini memiliki panorama yang eksotik. Pura yang memiliki luas sekitar tiga hektar, terdiri dari tujuh pura pesanakan yakni Pura Pesanggrahan (pinggir jalan raya Denpasar-Gilimanuk), Pura Taman Beji, Pura Goa Dasar, Pura Goa Tirtha, Pura Melanting, Pura Gading Wani serta Pura Ratu Gede Dalem Ped.

Arsitektur pura di dua pura utama yakni Pura Luhur dan Penataran masih dipertahankan dengan arsitektur Bali asli berbahan batu merah dan paras. Sehingga Pura yang pujawalinya jatuh pada Buda Umanis, Wuku Prangbakat ini juga menjadi salah satu cagar budaya.

Konon, nama Rambut Siwi merupakan sebutan masyarakat di sekitar kawasan pura. Nama itu berawal dari sebutan masyarakat yang mendapatkan anugerah berupa rambut Danghyang Nirartha dan disungsung oleh masyarakat sekitar.

Di sebuah pesisir yang disebut Yehembang dengan kondisi tebing karangnya berundak dan ketinggiannya cukup menjulang, Danghyang Nirartha bertemu dengan penduduk setempat. Kehadiran beliau disambut ramah oleh penduduk di sana.

Di atas karang tersebut terdapat sebuah parahyangan (tempat pemujaan). Saat itu penduduk di sana sedang dirundung musibah berupa grubug penyakit yang mematikan.

Baca juga:  Dampak Abrasi, Jalan Pinggir Pantai Yehembang Terputus

Danghyang Nirartha sempat bersemedi dan memohon petunjuk, kemudian usai melakukan tapa semadinya Dhangyang Nirartha menyampaikan pada penduduk di sana, dan menganugerahi sehelai rambut beliau.

Hingga kini tempat pemujaan itu dinamai Pura Rambut Siwi. Selain menjadi pusat pemujaan subak yang ada di wilayah pasedahan Pulukan, pasedahan Mendoyo dan Jembrana, termasuk Subak Kelating dan Subak Sungsang serta sejumlah subak lainnya yang ada di wilayah Kabupaten Tabanan, kawasan Pura Rambut siwi ini juga menjadi tempat melaksanakan upacara nyegara gunung.

Pengempon Pura Rambut Siwi, I Gusti Made Sedana mengatakan dalam beberapa tahun, Pura ini mengalami perbaikan dan rehab. Hanya bagian Pura Utama yang tetap dipertahankan sebagai cagar budaya Bali.

Saat ini setelah mengalami pemugaran pada tahun 2007 lalu, kawasan Pura ini sudah tertata dan memiliki tempat parkir yang memadai. Selain cagar budaya Pura, kawasan wisata Rambut Siwi juga didukung panorama alam dengan lahan pertanian yang subur.

Subak Yehembang yang mengelilingi kawasan Pura merupakan salah satu subak yang paling produktif di Kabupaten Jembrana. Dalam setahun subak Yehembang bisa mengalami dua kali musim tanam.

Masyarakat sekitar masih mempertahankan tradisi agraris dengan hasil padi yang melimpah. Subak seluas 382 hektar dan sekitar 500-an krama subak ini patut dipertahakan. Apalagi menjadi kawasan penyangga kesucian Pura Rambut Siwi.

Selain menggunakan traktor, dalam membajak sawah para petani masih menggunakan metode lama yakni dengan hewan peliharaan. Subak yang tergabung dari Yehembang dan Tegakgede ini menggantungkan aliran air dari sumber mata air di hutan Yehembang. (Surya Dharma/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.