SEMARAPURA, BALIPOST.com – Status Gunung Agung telah dinyatakan turun dari awas ke siaga, Sabtu (10/2). Demikian pula radius bahaya erupsi yang sebelumnya enam kilometer menjadi empat kilometer dari kawah.

Namun demikian, ribuan pengungsi di Kabupaten Klungkung belum mengambil langkah untuk pulang. Alasannya menunggu informasi resmi. Selain itu juga karena akses ke rumah mereka terputus diterjang lahar hujan.

Hal ini dialami warga dari Bukit Galah, Dusun Sogra, Desa Sebudi, Kecamatan Selat. Berdasarkan pantauan di GOR Swecapura, Desa Gelgel, Minggu (11/2), kepulangan pengungsi sangat sedikit.

Masih kisaran puluhan orang. Seluruh barang yang sebelumnya dibawa dari kampung halaman diangkut ke truk. “Katanya sudah boleh pulang. Statusnya (gunung-red) sudah turun,” ungkap warga asal Desa Sebudi, Wayan Sriana.

Meski disambut senang, langkahnya tersebut masih dihantui rasa waswas. Sebab, jarak tempat tinggalnya dengan gunung tertinggi di Bali itu tergolong cukup dekat.

Ia bersama keluarganya berharap situasi bisa terus mengarah ke normal. “Kalau was-was pasti ada. Tetapi sudah banyak yang pulang. Kami ikut,” tuturnya.

Pengungsi asal Bukit Galah, Dusun Sogra, Desa Sebudi, Nyoman Jawi mengaku sangat ingin untuk kembali ke tanah kelahiran. Hanya itu belum bisa terwujud dalam waktu cepat.

Pasalnya, jalur menuju rumahnya terputus akibat diterjang lahar hujan beberapa waktu lalu. Tak ada akses lain lagi yang menjadi alternatif untuk menjangkau. “Tempat tinggal sudah terisolir. Jalan putus. Bagaimana mau pulang,” katanya.

Baca juga:  Logistik Ini Diperlukan Pengungsi Balita

Puluhan Kepala Keluarga (KK) bernasib sama dengannya. Supaya hal tersebut tak terus berlanjut, pemerintah diharapkan bisa segera melakukan penanganan.

Sebab, jalan tersebut dinilai sangat penting sebagai jalur evakuasi jika nantinya kembali terjadi erupsi. “Kalau misalnya sekarang pulang, terus erupsi lagi. Bagaimana evakuasi cepat. Kendaraan tidak bisa lewat,” sebutnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung, Putu Widiada mengatakan sebelum penurunan status, jumlah pengungsi 3.009 jiwa yang tersebar di 30 desa/kelurahan. Dari jumlah itu, yang pulang masih kisaran diangka puluhan orang.

Sementara sisanya, masih menunggu informasi dari Pasebayan. “Kalau data pasti yang pulang, kami belum ada. Tetapi yang masih (mengungsi-red) masih ribuan,” terangnya.

Sesuai informasi yang diterima, seluruh pengungsi sudah diperkenankan untuk pulang. Sebab tempat tinggalnya berada di luar radius empat kilometer.

Namun, jika ada yang masih ingin bertahan dalam beberapa hari kedepan, pemkab akan mengkoordikasikan dengan Pemkab Karangasem. “Di radius empat kilometer katanya tidak ada permukiman. Jadinya kan semua pengungsi bisa pulang. Karena seperti itu, Pemkab Klungkung tak lagi bisa mengeluarkan bantuan. Kalau ada pengungsi yang tidak pulang, segera kami koordinasikan,” sebutnya.

Khusus untuk kepulangan, pejabat asal Kecamatan Penebel, Tabanan ini menyampaikan pemkab menyediakan tiga angkutan berupa bus dan truk. Sementara itu, terkait tindaklanjut logisitik yang masih cukup banyak, dinyatakan menunggu petunjuk dari Bupati. “Ini sudah disampaikan ke Pak Bupati. Kami menunggu intruksi,” pungkasnya. (sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.