Pasar
Pengepul bawang merah dan putih di Pasar Galiran, Klungkung. Seiring dengan kembalinya pengungsi ke kampung halaman, penjualannya tetap stagnan. (BP/sos)

SEMARAPURA, BALIPOST.com – Pengungsi Gunung Agung sudah banyak kembali ke kampung halaman di Karangasem, baik yang berada di Kabupaten Klungkung maupun lainnya. Namun situasi tersebut belum memberikan imbas terhadap peningkatan penjualan hasil bumi berupa bawang merah dan putih pada pedagang di Pasar Galiran, Klungkung. Pesanan barang dari pelanggannya di bumi lahar itu masih sangat minim.

Salah seorang pengepul, Gusti Ngurah Indrawan, Selasa (16/1) menuturkan selama ini pelanggannya merupakan pedagang yang berasal dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) erupsi Gunung Agung. Saat terjadi pengungsian besar-besaran, penjualan bawang merah dan putih turun drastis, hingga mencapai 50 persen.

Ditengah banyaknya yang kembali ke kampung halaman, sejalan dengan penurunan radius bahaya dari 8 kilometer sektoral 10 kilometer menjadi 6 kilometer, ia bersama pedagang lain berharap penjualannya bisa kembali normal. Namun hal tersebut hanya sebatas mimpi. Penjualannya tetap stagnan, nyaris tidak ada peningkatan. “Kepulangan pengungsi belum berpengaruh untuk penjualan. Pasar masih sepi,” sebutnya.

Pedagang berperawakan kurus ini tak mengetahui pasti penyebab hal itu. Namun diduga karena aktivitas pasar di KRB belum berjalan seperti biasa. “Karena seperti itu, secara otomatis penjualan tidak ada. Jadinya belum mencari barang kesini,” terangnya.

Baca juga:  Jokowi: Semua Harus "Back Up" Penanganan Gunung Agung

Merosotnya transaksi jual beli juga terjadi pada pelanggannya yang berasal dari Klungkung, Gianyar dan Denpasar. Padahal, dari sisi harga sudah mengalami penurunan. Bawang merah sebelumnya Rp 14 ribu menjadi Rp 11 ribu per kilogram dan bawang putih dari Rp 16 ribu menjadi Rp 13 ribu. “Padahal harga turun. Tapi pembeli sepi. Kalau misalnya naik, kan wajar seperti itu (sepi-red),” ucapnya.

Kondisi tersebut juga diakui pedagang, Wulan. Mengantisipasi kerugian, pasokannya terpaksa dikurangi hingga 25 persen. Ini juga untuk mempercepat kembali modal. “Penjualan sepi. Yang datang jarang. Tumben seperti ini,” terangnya.

Selain bumbu dapur, penjualan sepi juga terjadi pada dedak yang menjadi pakan sapi dan babi. Hal ini, kata distributor di Pasar Semarapura, Agus berlangsung sejak warga Karangasem mengungsi. “Ternaknya sudah banyak dijual. Jadinya tidak ada beli pakan,” tuturnya.

Saat situasi normal, setiap pekan pelanggannya membeli sekitar 2 ton. Namun kini kurang dari separuh. Ia pun berharap situasi ini tak berlangsung lama. “Mudah-mudahan segera membaik. Biar dapat jualan,” tandasnya. (sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.