BPBD Klungkung membongkar tenda di GOR Swecapura. (BP/sos)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Dua puluh tenda di lapangan GOR Swecapura, Desa Gelgel akhirnya dibongkar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klungkung, Rabu (8/11). Hal tersebut menyusul ribuan pengungsi Gunung agung telah menyatakan kembali secara permanen ke kampung halamannya di Karangasem.

Kepala Pelaksana BPBD Klungkung, Putu Widiada mengungkapkan sejak sepekan lalu, sejalan penurunan status Gunung Agung dar level awas ke siaga dan perayaan Galungan, kepulangan pengungsi terus berlanjut. Yang bertahan hanya yang tertampung di dalam GOR sebanyak 524 jiwa. Sementara untuk tenda, dari dari 22 unit yang terpasang, 20 sudah tak berpenghuni.

Barang-barang pengungsi pun sudah habis terangkut dibawa ke kembali ke kampung halaman. Oleh karenanya dilakukan pembongkaran yang dibantu TNI, Polri dan beberapa pengungsi. “Kepulangannya permanen. Jadinya tenda di bongkar. Yang lagi dua dibiarkan (berdiri-red) karena masih ditempati. Kami tidak memaksa untuk pulang,” terangnya.

Jika pun nantinya ada warga yang kembali mengungsi, pendirian tenda tak langsuung dilakukan. Pengungsi akan ditampung terlebih dahulu di dalam GOR yang kapasitasnya mencapai 3.000 jiwa. Namun demikian, hal semacam ini diharapkan tak terjadi.

Baca juga:  Gianyar Pusatkan Posko Pengungsi di Lapangan Sutasoma

Sesuai hasil pendataan sementara, pengungsi yang masih bertahan di bumi serombotan mencapai 7000 jiwa tersebar di Kecamatan Klungkung, Banjarangkan, dan Dawan. Dari itu, sekitar 3.700 jiwa berasal dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) III. “Yang bertahan masih ada dari KRB I dan II. Mungkin mereka masih khawatir, makanya belum pulang. Untuk tinggalnya masih ada di rumah warga, dan beberapa balai banjar,” ungkap pejabat asal Penebel, Tabanan ini.

Sementara itu, ditengah semakin berkurangnya kedatangan bantuan dari donatur, ketersediaan logistik untuk memenuhi kebutuhan pengungsi dinyatakan masih aman. Terlebih potensi kepulangan masih terus berlanjut. “Untuk logistik tidak ada masalah. Kebutuhannya juga sudah mulai berkurang. Seperti beras, dulu 7 ton sehari, sekarang hanya kisaran 2 ton,” pungkasnya. (Sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.