Bintang Puspayoga (pegang mike) saat menyemangati pengungsi di Posko UPTD Pertanian Rendang, Sabtu (21/10). (BP/yud)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI ) Bali Nyonya Bintang Puspayoga menyambangi posko pengungsian di UPTD Pertanian, Desa Rendang, Karangasem, Sabtu (21/10). Didampingi Nyonya Seniasih yang juga istri Bupati Badung I Nyoman Giri Prasta dan sejumlah anggota WHDI Bali, Bintang Puspayoga diterima Camat Rendang I Wayan Mastra.

Dalam kunjungan itu, Bintang Puspayoga memberikan bantuan ratusan kotak pensil yang lengkap dengan isinya kepada anak-anak sekolah yang berada di pengungsian. Anak-anak yang menerima kotak pensil tersebut terlihat sangat antusias menunggu giliran untuk menerima kotak pensil.

Bintang Puspayoga mengungkapkan, pihaknya sangat mengapresiasi dalam keadaan seperti ini masih banyak warga pengungsian yang tetap melakukan aktivitas. “Ini sangat kita apresiasi. Itu artinya warga pengungsi tidak diam saja di pengungsian. Kita harus melihat ke depan, isi waktu dengan semangat,” ucap Bintang puspayoga.

Dikatakannya, untuk memberikan pengalaman sebagai bekal mereka ke depannya, pihaknya akan memberikan pelatihan sesuai dengan kemampaun dan minat para pengungsi. Sehingga pelatihan yang diberikan bisa maksimal dan pelatihan yang diberikan menjadi tepat sasaran. “Nanti kita minta bantuan pak camat untuk mendata. Pelatihan apa yang diinginkan oleh pengungsi. Karena pelatihan yang diberikan akan menyesusikan permintaan dari masyarakat. Jangan sampai kita berikan pelatihan A mau masyarakat B kan tidak nyambung. Jadi pelatihan akan menyesuaikan skill pengungsi,” katanya.

Baca juga:  Pascagalungan, Pengungsi Gunung Agung Tinggal 129 Ribu 

Dijelaskan Bintang puspayoga, untuk pelatihan jangka pendek yang akan diberikan, pelatihan mejejahitan rencananya digelar pada 27 Oktober. Kata dia, pelatihan itu diberikan mengingat dalam waktu dekat akan ada perayaan Galungan dan Kuningan.

Dengan mejejaitan ini, nantinya sarana upacara yang dibuat bisa digunakan untuk Galungan dan tidak usah beli lagi di pasar. “Untuk bahan nanti kita yang akan berikan. Mereka tinggal menjahitnya di sini (pengungsian, red),” jelas Bintang Puspayoga. (Eka Parananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.