pengungsi
Anak pengungsi belajar di sekolah terdekat. (BP/dok)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Siswa pengungsi Gunung Agung yang sekarang bersekolah sementara di beberapa sekolah di Kecamatan Tejakula terancam tidak bisa mengikuti Uangan Akhir Semester (UAS). Alasannya, sampai sekarang belum ada penjelasan terkait mekanisme pembayaran dana Bantuan Oprasional Sekolah (BOS).

UAS sendiri digelar bulan depan yang dibiayai dari jatah dana BOS. Sejak pengungsi masuk ke Buleleng, 2.600 siswa pengungsi tersebar di 200 sekolah jenjang SD dan SMP. Ribuan siswa itu belajar dengan status siswa titipan. Kendati Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karangasem membuka sekolah sore di Buleleng, akan tetapi upaya tersebut tidak menjamin siswa pengungsi dapat mengikuti UAS bulan depan.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng Gede Suysa Rabu (18/10) mengatakan, mulai November 2017 siwa harus mengikuti UAS. Untuk mengikuti UAS, siswa membutuhkan biaya operasional yang ditanggung dari jatah BOS. Biaya itu untuk penyediaan soal, lembar jawaban, pengawasan, dan sejumlah operasional penting lain.

Apabila Disdikpora Karangasem bisa memindahkan siswa satu sekolah ke Buleleng, maka hal itu tidak akan terjadi persoalan. Hanya saja fakta di lapangan, sekolah sore yang dibentuk Disdikpora Karangasem menerima siswa dari beberapa sekolah. Seperti di SDN 2 Dukuh yang nompleng di SDN 1 Tembok. Sekolah ini memiliki 197 orang siswa pengungsi berasal dari 19 SD berbeda.

Baca juga:  Penentuan Darurat Pengungsi Gunung Agung Tergantung PVMBG

Sementara, siswa asli dari SDN 2 Dukuh jumlahnya hanya 40 orang siswa saja. “Siswanya tersebar 200 sekolah di Buleleng dalam jumlah sedikit-sedikit. Ini yang belum diputuskan dan masih dibahas lagi di Posko Pengungsi Tanah Ampo dan kita belum tahu sepert apa solusinya,” katanya.

Suyasa menambahkan, sejauh ini pihaknya sudah pernah koordinasi dengan Disdikpora Karangasem. Dari koordinasi itu, Disdikpora Karangasem memutuskan membuka tiga sekolah sore di Buleleng. Dua sekolah jenjang SD dibuka dengan meminjam gedung SDN 1 Tembok dan SDN 2 Tembok, Kecamatan Tejakula. Sedangkan, untuk jenjang SMP yang dibuka di SMPN 2 Tejakula.

Disdikpora Karangasem rencananya mendatangkan siswa, guru, hingga kepala sekolah ke ketiga sekolah darurat di Buleleng timur tersebut. “Siswa yang masuk di sana, tidak murni berasal dari satu sekolah yang sama. Ini yang akan jadi kendala di lapangan. Tapi kewenangan itu diatur Disdikpora Karangasem, kami membantu fasilitas,” jelasnya. (mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.