Ketua DPD REI Bali Pande Agus Permana Widura menjelaskan krisis pasir sebagai dampak status awas Gunung Agung.(BP/rah)
DENPASAR, BALIPOST.com – Developer seluruh Bali kena imbas dampak gejala erupsi Gunung Agung. Apalagi tidak bisa diprediksi waktu meletusnya gunung tertinggi di Bali ini. Pasalnya sejak berstatus awas, pasokan pasir terus tersendat dan harganya merangkak naik.

Kondisi tersebut dibenarkan Ketua DPD REI Bali Pande Agus Permana Widura, Selasa (3/10). Menurutnya, pada umumnya developer mensubkan proyeknya kepada pemborong. Namun sejak ada program Rumah Jokowi atau rumah subsidi, anggota REI Bali langsung mengambil alih alias tidak melibatkan pemborong.

“Pasir merupakan bahan dasar bangunan dan perannya sangat penting. Kalau pasokan pasir sampai tersendat apalagi dalam waktu lama, kami khawatir pembangunan di Bali banyak yang mangkrak. Apalagi proyek pemerintah,” ujarnya.

Sejak Gunung Agung berstatus awas, galian C di Karangasem ditutup demi keamanan.  Kondisi ini mempengaruhi harga dan langkanya pasir. “Bahkan ada teman-teman (anggota REI Bali-red) beli pasir ke Banyuwangi. Meskipun harganya lebih mahal. Sedangkan kami ditarget untuk membangun rumah subsidi,” tegas Agus Pande, didampingi Sekjen Wayan Suananta Wijaya yang akrab dipanggil Tino ini.

Saat ini, pasokan pasir datang dari Songan, Kintamani, Bangli. Kendalanya pasokannya lambat karena jalannya kecil dan lokasinya jauh. “Secara garis besar sampai saat ini belum signifikan mempengaruhi harga rumah, khususnya rumah subsidi. Paling mempengaruhi margin (profit) developer,” ungkap Sumadia, didampingi I Made Indrawan selaku Wakil Ketua Bidang Perbankan dan Pembiayaan.

Baca juga:  Proyek Pasar Semarapura Dikhawatirkan Tak Tuntas Tepat Waktu

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha Anggota DPD REI Bali, I Made Sumadia mengungkapkan, harga pasir saat ini sangat mahal. Harga pasir pasang dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 1,9 juta per lima kubik. Sedangkan pasir halus dari Rp 1,3 juta menjadi Rp 2,5 juta.

Di tengah situasi yang sulit diprediksi saat ini, Sumadia berharap Pemda Bali dan instansi terkait mencarikan solusi terbaik untuk pengembang. Saat ini pengusaha properti lagi krisis material, khususnya pasir. Ia juga berharap ada kemudahan untuk mendapatkan pasir misalnya memberi subsidi atau beri izin galian C di Kintamani, Bangli. “Kami tidak mau terhenti tapi harus ada solusinya, terutama dari pemerintah. Kami berusaha semaksimal mungkin mendapatkan pasir. Kalau harga pasir di Banyuwangi Rp 2,5 juta per 3,5 kibik sampai di Bali. Memang harganya lebih mahal,” ungkap Indrawan.(kerta negara/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.