Tanaman cabai yang dikembangkan di lahan marginal. (BP/gik)
AMLAPURA, BALIPOST.com – Menjadi seorang petani harus kreatif. Petani yang hanya menjalankan rutinitas tidak akan pernah maju.

Itu pula yang dirasakan Ida Wayan Oka, salah satu praktisi pertanian di Karangasem. Dia sejak beberapa tahun terakhir giat mencari lokasi lahan-lahan tidur atau marginal yang tak termanfaatkan.

Bukan untuk membangun tanah kapling, melainkan mengembangkan pertanian. Produk yang dikembangkan pun tidak main-main. Yakni, seperti cabai, bawang merah, gandum, tomat dan produk lainnya yang dibutuhkan di Bali.

Ketua Asosiasi Agribisnis Karangasem ini sejak awal mengaku tergerak memanfaatkan tanah-tanah marginal di Karangasem. Selain agar bisa dimanfaatkan, ini juga sebagai upaya untuk pengembangan pertanian di Karangasem. Dengan melibatkan kelompok-kelompok pertanian, dia mengembangkan beberapa produk yang menjadi kebutuhan sehari-hari, seperti cabai.

Sebagai contoh, di Dusun Gunaksa, Desa Ababi, awalnya dia mencoba untuk mengembangkan cabai di lokasi itu dalam lahan seluas satu hektar. Setelah berjalan beberapa bulan, rupanya hasilnya cukup bagus. Sehingga, berkat antusiasme kelompok tani setempat, kini lokasi pengembangan cabai di sekitar lokasi itu sudah mencapai 11,2 hektar. “Penanaman bibit kami atur seluas dua hektar per bulan, agar hasil produksinya tidak terputus,” kata Ida Wayan Oka, saat ditemui di Amlapura, Rabu (23/8).

Baca juga:  Pasca Bencana, Kerusakan Lahan 135.57 Hektar dan Kerugian Mencapai 6 Miliar

Lancarnya pengembangan produk pertanian ini, kata dia, juga tidak terlepas dari pendampingan yang diberikan BI (Bank Indonesia). Pendampingan yang diberikan dimulai dari pengolahan tanah, ketersediaan bibit, penggunaan pestisida nabati hingga pencarikan pasar yang tepat.

Selama menekuni pertanian ini, ia juga mengolah hasil panen menjadi produk kemasan. Misalnya komoditas cabai diolah menjadi sambal botolan. Hasil produk kemasan itu bisa tahan enam bulan.

Ida Wayan Oka menambahkan, selain melakukan pengembangan di Karangasem dan Bangli (Batur), pihaknya aktif melakukan pengembangan produk pertanian hingga ke Nusa Penida, melalui pendampingan yang diberikan BI.

Dia berharap pemerintah daerah mau bersinergi dengan praktisi pertanian, untuk membangun pertanian berkelanjutan. “Lemahnya pemerintah di situ. Pendampingannya cuma di awal. Ini kadang membuat petani ragu mengikuti program pemerintah,” tegasnya. (Bagiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.