
DENPASAR, BALIPOST.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bali memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026 tetap tumbuh tinggi. Kisarannya berada antara 5,5 hingga 5,9 persen, dengan peluang penguatan lebih lanjut melalui investasi yang terus bergulir.
Kepala Perwakilan BI Bali, Erwin Soeriadimadja dalam High Level Meeting (HLM) TPID dan TP2DD, Selasa (10/2) menerangkan pihaknya menekankan pentingnya diversifikasi motor pertumbuhan ekonomi, tidak hanya bertumpu pada pariwisata. Program swasembada pangan dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus menekan inflasi secara berkelanjutan melalui pembentukan ekosistem pangan yang kuat dari hulu ke hilir.
Untuk 2026, BI memperkirakan inflasi Provinsi Bali dapat terjaga dalam koridor sasaran 2,5 persen ±1 persen. Namun terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi, mulai dari volatilitas produksi akibat ketidaksinkronan masa tanam dan puncak permintaan, faktor cuaca, rantai pasok, peningkatan permintaan pangan untuk program MBG, hingga efektivitas pelaksanaan operasi pasar menjelang HBKN.
“Operasi pasar harus dijalankan dengan prinsip 3T, yakni tepat waktu, tepat sasaran, dan tepat kualitas,” tegasnya.
Dalam strategi jangka pendek pengendalian inflasi, BI merekomendasikan penguatan operasi pangan murah, optimalisasi kerja sama antar daerah, serta pemanfaatan Perumda Pangan. BI juga mendorong penurunan inflasi komponen volatile food agar dapat ditekan ke bawah 5 persen, sejalan dengan sasaran inflasi nasional.
Di sisi lain, BI menilai akselerasi digitalisasi daerah menjadi faktor pendukung penting bagi stabilitas ekonomi dan inflasi. Sinergi pemerintah daerah se-Bali dalam optimalisasi Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) telah meningkatkan efisiensi transaksi, baik dari sisi penerimaan maupun belanja daerah.
“Preferensi masyarakat terhadap transaksi non-tunai terus meningkat, termasuk penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI) oleh OPD, yang mendukung tata kelola anggaran yang lebih baik,” kata Erwin.
Evaluasi BI menunjukkan kinerja digitalisasi Bali pada 2025 tergolong baik, meski masih terdapat ruang perbaikan, terutama dalam memperluas cakupan digitalisasi hingga tingkat desa serta memastikan konsistensi implementasi di lapangan.
Ke depan, BI berharap program TP2DD dapat memperkuat ekosistem digital daerah yang lebih inklusif, mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang berkelanjutan, sekaligus menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (Suardika/balipost)










