Ilustrasi pembangunan kawasan permukiman di Denpasar, Bali, Sabtu (29/3/2024). (BP/Dokumen Antara)

DENPASAR, BALIPOST.com – Kinerja sektor properti komersial di Bali menunjukkan tanda-tanda pelambatan pada akhir 2025. Hasil Perkembangan Properti Komersial (PPKom) Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat Indeks Harga Properti Komersial (IHPK) Bali pada triwulan IV 2025 hanya tumbuh 0,68 persen (year on year/yoy), melambat signifikan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 3,56 persen (yoy).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Bali, Erwin Soeriadimadja di Denpasar menjabarkan, secara tahunan, pergerakan harga properti komersial masih ditopang oleh kenaikan harga pada beberapa segmen utama. Perkantoran sewa tumbuh 5,93 persen (yoy), ritel sewa naik 0,51 persen (yoy), serta hotel meningkat 0,68 persen (yoy).

“Namun demikian, penguatan tersebut belum cukup menahan tekanan pelemahan secara keseluruhan,” katanya Rabu (11/2).

Baca juga:  BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat

Secara kuartal, harga properti komersial bahkan mengalami kontraksi. Pada triwulan IV 2025, IHPK Bali tercatat terkontraksi -3,16 persen (quarter to quarter/qtq).

Penurunan ini sejalan dengan langkah pelaku usaha, khususnya sektor perhotelan, yang melakukan koreksi harga untuk menjaga daya saing di tengah permintaan yang melandai.

Melemahnya permintaan tercermin dari Indeks Permintaan Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan IV 2025 yang turun -4,80 persen (yoy). Penurunan terutama terjadi pada segmen perkantoran sewa sebesar -5,98 persen (yoy) dan hotel sebesar -6,71 persen (yoy).

Pada segmen perkantoran, penurunan permintaan dipengaruhi oleh pergeseran preferensi kerja, di mana pelaku usaha dan pekerja semakin beralih dari kantor konvensional ke co-working space yang dinilai lebih fleksibel dan efisien.

Baca juga:  Ratusan Liter Arak dan Knalpot Brong Dimusnahkan

“Sementara itu, penurunan permintaan hotel didominasi oleh wisatawan mancanegara, seiring semakin banyaknya pilihan akomodasi alternatif seperti vila, apartemen, dan properti sewa,” ujarnya.

Kondisi ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali yang mencatat penurunan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang dan nonbintang pada November dan Desember 2025.

Di tengah pelemahan permintaan, pasokan properti komersial di Bali justru tetap solid. Indeks Pasokan Properti Komersial pada triwulan IV 2025 tumbuh 0,69 persen (yoy), membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih terkontraksi -0,07 persen (yoy). Peningkatan pasokan terutama didorong oleh apartemen sewa yang tumbuh 13,07 persen (yoy) serta hotel sebesar 0,77 persen (yoy).

Baca juga:  BI Tegaskan Uang Kripto Bukan Alat Pembayaran Sah di Indonesia

Untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan sekaligus mendorong pertumbuhan properti yang sehat dan berkelanjutan, Bank Indonesia terus memperkuat dukungan melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). Kebijakan ini diarahkan untuk mendorong pembiayaan perbankan ke sektor properti secara selektif dan berkualitas.

Dengan langkah tersebut, Bank Indonesia berharap sektor properti komersial Bali tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah di tengah dinamika permintaan dan perubahan pola konsumsi masyarakat. (Suardika/balipost)

BAGIKAN