abrasi
Batu dan fosil akar pohon tua mulai tampak muncul di pantai Pasut, Tabanan akibat pasir pantai yang tergerus oleh arus. (BP/bit)
TABANAN, BALIPOST.com – Tingginya gelombang di kawasan laut selatan menjadi ancaman serius keberadaan kawasan pantai selatan di Bali. Bahkan beberapa kawasan pantai kini mengalami abrasi yang mengkhawatirkan terhadap keberadaan pantai. Terbukti belum lama ini muncul fenomena alam yang terjadi di pantai selatan tepatnya di pantai Pasut, kecamatan Kerambitan, kabupaten Tabanan.

Pasir pantai yang terus tergerus oleh arus memperlihatkan dasar pantai berupa batu dan fosil akar pohon besar yang masih kokoh sekitar 70 sampai 100 meter dari bibir pantai. “Itu semua fosil pohon yang pernah tumbuh di pantai yang dulunya adalah tanah dan perlahan lahan tergerus abrasi menjadi lautan,” ucap Ketua DPC HNSI Tabanan, I Ketut Arsana Yasa, Senin (21/8).

Dijelaskannya adanya batu dan fosil akar pohon besar ini mengingatkan akan cerita para tetua pada jaman dulu sekitar tahun 1940-an, yang mengatakan lokasi pantai jauh diselatan. “Nak joh ladne bedelod bibih pasih, kini ucapan itu terbukti,”katanya.

Berdasarkan hal itu, menandakan bahwa abrasi pantai di laut Selatan memang sudah mulai mengkhawatirkan. Bagi pejabat asal Kerambitan ini, terkikisnya daratan oleh arus laut dikarenakan global warming memang benar adanya. “Ini terjadi karena pemanasan alam secara global oleh pelaku industri di negara maju, sehingga CO2 melebihi ambang batas yang dapat merusak lapisan Ozon, sehingga mengubah iklim di seluruh dunia anomaly iklim,” tegasnya.

Baca juga:  Ingin Sapa Massa Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Rai Mantra Datang Tanpa Sudikerta

Ditegaskan pula oleh pria bertubuh tambun ini, terkikisnya daratan juga merupakan proses pengerusakan yang telah terjadi berabad-abad dan harus segera ditangani, tetapi belum tuntas. “Jadi kita di Bali harus tolak reklamasi teluk benoa, dan pemimpin Bali harus memberi respon, jangan hanya karena uang justru mengorbankan Bali demi kaya sendiri,” tegasnya.

Arsana Yasa juga menilai kian mengkhawatirkannya abrasi di pantai Selatan juga kemungkinan diakibatkan reklamasi Bandara Ngurah Rai sekitar tahun 1943 silam. “Pelan tapi pasti abrasi terus terjadi,”pungkasnya.

Disisi lain, pemerintah pun sudah terus melakukan upaya untuk menekan abrasi, salah satunya dengan penghijauan dan senderan pantai. Seperti di kawasan pantai Yeh Gangga, Tabanan, Bendesa Adat Yeh Gangga, I Wayan Winda pernah menyampaikan abrasi cukup parah pernah pernah terjadi di pantai yeh gangga di tahun 2005 silam. Bahkan saat itu sampai menggerus bangunan warung yang ada di pesisir.

“Setelah dapat bantuan batu beronjong baru ada pengamanan tahun 2009 berupa bantuan senderan pantai dari pusat, dan di tahun 2015 dapat bantuan senderan pantai sepanjang satu kilometer dari PU propinsi, kami harap bisa berlanjut sehingga abrasi bisa teratasi,” ucapnya.

Dan sampai saat ini untuk panjang pantai yang belum mendapatkan penanganan, pihaknya juga telah mengajukan permohonan ke propinsi serta sudah melakukan pengukuran untuk mendapatkan total panjang pantai yang akan ditangani.(puspawati/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.