omzet
Omzet Penjualan di PKB Mencapai Rp 8,9 Miliar. (BP/may)
DENPASAR, BALIPOST.com – Pesta Kesenian Bali (PKB) tidak hanya mementaskan kesenian Bali tapi juga memberikan ruang perajin-perajin Bali untuk unjuk gigi. Karena Bali memiliki potensi tidak hanya pariwisata tapi juga industri kecil dan menengah (UMKM). Melalui ajang PKB inilah, para perajin-perajin Bali dapat memamerkan produk-produknya kepada masyarakat luas.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dewa Putu Beratha belum lama ini mengatakan, pihaknya telah mewawancarai perajin-perajin yang ikut dalam PKB. Dari sana terungkap bahwa omzet perajin meningkat dari PKB tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga stand kuliner. Bahkan pukul 20.00 wita, makanan yang disiapkan di stand kuliner telah habis. “Warung be genyol dalam sehari bisa sampai dapat Rp 10 juta,” ungkapnya.

Hal ini juga berarti krisis ekonomi nasional tidak mempengaruhi PKB. Mengajak para perajin dan pelaku UMKM di Bali untuk mengikuti PKB adalah salah satu upaya mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan pedesaan.

Hingga 30 Juni 2017 saja, omzet PKB telah mencapai Rp 8,9 miliar. Berdasarkan kelompok produk, kelompok logam dan turunannya meraih omzet tertinggi yaitu Rp 3,2 miliar. Di urutan kedua adalah kelompok tekstil dan turunannya yaitu Rp 967.900.000, Dekranasda Rp 576.714.000, kelompok kerajinan kayu dan turunannya Rp 487.043.000, kelompok kerajinan ate, rotan, bambu, eceng gondok, daun lontar dan lidi Rp 106.680.000, kelompok kulit hewan dan turunannya Rp 40.695.000, dan kelompok kerajinan lainnya Rp 3,5 miliar. PKB tinggal semingu lagi. Ia berharap hingga akhir PKB 2017 nanti, omzet perajin dapat terus bertambah.

Baca juga:  Penganiayaan Berujung Penusukan, Pedagang Tewas

Pemilik Vajra Silver (kelompok perajin logam dan turunannya), Mahadev Sugianti mengatakan, ajang PKB merupakan ajang untuk memamerkan produk kreasi barunya. Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 75 pcs anting/subeng dengan harga mulai Rp 50.000 – Rp 700.000 tergantung bahannya. “Justru di sini lebih laku produk yang harganya mahal-mahal,” katanya.

Selain menyediakan subeng, ia juga menawarkan bros dengan harga Rp 100.000 – Rp 4,5 juta, cincin Rp 50.000 – Rp 1 juta. Bahan aksesoris logam yang paling banyak diminati adalah perak yang notabene harganya lebih tinggi dari bahan logam lainnya.

Setelah 3 kali mengikuti PKB, satu hal yang dipelajarinya adalah terus berinovasi terhadap produk. Ia sendiri yang membuat design aksesorisnya kemudian pengerjaannya diserahkan ke tukang. Tukang tidak hanya yang selalu standby di rumah produksinya, tapi ia juga memberdayakan tukang rumahan. Sehingga ia tinggal membawa bahan dan design ke tukang rumahan untuk dikerjakan di rumah tukang tersebut.(citta maya/balipost)

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.