air
Penonton tampak memadati Kalangan Ratna Kanda untuk menyaksikan Taman Penasar berjudul "Inih" yang dibawakan Sanggar Seni Majelangu, Duta Kabupaten Badung. (BP/rin)
“Patut i raga ajak makejang miara kebersihan lan kesucian yehe ento apang ka pianak cucu i raga. Kenken carane? Jalan anutang kawigunan nyane, do boros nganggo yeh, yan suba aketo ajak makejang, to madan inih.” Begitulah pesan yang disampaikan Sanggar Seni Majelangu saat mengikuti lomba Taman Penasar di Kalangan Ratna Kanda, Taman Budaya Denpasar, Kamis (15/6).

Duta Kabupaten Badung ini menampilkan garapan berjudul “Inih” saat berpartisipasi dalam salah satu materi wajib Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-39 ini.

Ketua Sanggar, I Made Agus Adi Santikayasa mengatakan, “inih” merupakan falsafah yang mengajarkan manusia untuk selalu berhemat dan tidak menghambur-hamburkan kekayaan. Termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam, terutama air. “Kita berusaha memberikan gambaran kepada masyarakat untuk bisa irit dalam menggunakan air. Inih ini merupakan warisan leluhur kita biar bisa tertanam lebih dalam, khususnya untuk generasi muda,” ujarnya.

Menurut Adi Santikayasa, dialog-dialog dalam garapan “Inih” menggambarkan konflik yang selalu timbul dari pola hidup boros. Dalam hal ini, kurang menyadari pentingnya menjaga kesucian dan keharmonisan alam. Gambaran ini diharapkan dapat disikapi secara bijaksana oleh masyarakat luas. Utamanya memupuk kesadaran menjaga air sebagai sumber kehidupan dengan cara “inih”, demi terciptanya jagat kerta lan raharja.

Baca juga:  Pengurusan PKB Angkot Angdes Terbentur Umur Kendaraan

“Taman penasar itu sebenarnya sesuatu pembicara yang sopan walaupun dalam kenyataannya sering dipertunjukkan dalam lawakan, tapi berusaha menunjukkan kepada masyarakat luas biar lebih mudah untuk memahami maksud dan tujuan tema. Dalam hal ini, tema PKB Ulun Danu terkait pelestarian lingkungan,” imbuhnya.

Adi Santikayasa menambahkan, ciri khas Badung ditonjolkan pada tembang-tembang yang dinyanyikan saat pentas selain lewat dialognya. Ada beberapa pupuh yang dibawakan, seperti sinom dasar, pupuh ginada, dandang gula, pupuh durma, pupuh semarandana, dan pupuh pucung. Total ada 22 penari dan penabuh yang dilibatkan, mulai dari usia 11 tahun hingga 35 tahun. (rindra/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.