Produksi
Produsen garam di Tejakula. (BP/sos)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Potensi laut Desa/Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng sangat besar. Hal tersebut dimanfaatkan secara baik warga sekitar, salah satunya untuk produksi garam. Meski masih menggunakan metode tradisional, bumbu dapur bercitarasa asin ini telah mampu menembus pasar ekspor.

Berkunjung ke Desa Tejakula, kawasan pesisirnya terlihat membentang luas. Keindahan yang dipancarkan juga tak kalah dengan laut di daerah lain. Potensi alam ini tak hanya dilirik masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan. Namun beberapa juga ada yang memanfaatkan untuk produksi garam. Salah satunya dilakukan Pengusaha Made Widnyana.

Menurutnya, selama bertahun-tahun, garam Tejakula diproses dengan cara organik. Tidak ada campuran unsur-unsur kimia. Selain itu, penjemuran bumbu dapur berupa kristal ini juga cukup unik. Itu tak menggunakan plastik, melainkan palungan dari pohon kelapa. “Dengan palungan ini, kandungan air dalam garam agar akan terserap,” paparnya, belum lama ini.

Garam yang diproduksi juga memiliki rasa tidak terlalu asin. Selain itu, kandungan yodiumnya muncul secara alamai. Itu salah satunya terpengaruh cara penjemurannya yang menggunakan palung pohon kelapa.

Widnyana menyebutkan, produksi garam juga dilakukan pada jenis pyramid yang siap diekspor ke mancanegara. Garam ini digolongkan menjadi dua. Ada yang mempunyai ukuran besar dengan harga yang paling mahal yaitu 5 ribu rupiah per pcs, sedangkan garam pyramid dengan ukuran kecil akan dijual dengan harga 260 ribu rupiah per kilo. Kualitas garam kedua disebut snow salt, dice salt, dan super Tejakula salt yang dijual dengan harga yang berbeda. “Produksinya sangat bergantung pada cuaca. Kalau mendung, maka bentuk pyramid tidak sempurna,” jelasnya.

Baca juga:  Jaja Gipang Masih Tetap Eksis

Garam yang dihasilkan sudah mampu di ekspor negara-negara maju, seperti Jepang, Hongkong, Amerika, dan Australia. Sementara untuk pasar lokal, sudah menyasar Kuta, Denpasar, dan Jakarta. Meskipun harga penjualan garam pyramid terbilang mahal, namun pembelian langsung dari petani hanya berkisar antara 5 ribu hingga 10 ribu rupiah per kilo. Hal tersebut dikarenakan jumlah garam asli petani dan garam yang sudah melalui proses jumlahnya akan jauh mengalami penyusutan. “Banyak terjadi penyusutan, dari penjemuran, sortir, dan juga packing. Apalagi garam yang kami beli dari petani masih mengadung banyak air dan itu akan sangat berpengaruh terhadap harga,” terang Widnyana.

Produksi garam ini telah mampu menjadi tumpuan hidup sejumlah masyatakat. Tenaga kerja lokal juga mampu terserap. (sosiawan/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.