krisis
Lahan yang kering di Tempek Tabunan yang krisis air. Kondisi itu membuat petani tidak bisa menanam padi sejak dua tahun belakangan. (BP/nan)
BANGLI, BALIPOST.com – Subak Tampuagan, Desa Peninjoan, Tembuku mengalami krisis air. Penyebab akibat air disadap oleh sejumlah kelompok termasuk dipakai Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bangli untuk dijadikan sebagai air minum. Selain itu, krisis juga di perparah akibat Jaringan Irigasi (saluran tersier) dirusak kepiting. Akibatnya, air banyak merembes ke daerah bawah (sungai). Hal itu diakui Kelihan Tempek Tabunan, Jero Mangku Setiani, selasa (30/5).

Setiani mengatakan, memang saat ini subak Tampuangan krisis air untuk mengairi sawah. Hal itu disebabkan, akibat sumber – sumber mata air di beberapa titik (di hulu) digunakan (PDAM) Bangli untuk dijadikan air minum. Selain itu, penyadapan oleh beberapa kelompok ditambah jaringan irigasi di rusak kepiting turun memperparah krisis air. “Itulah yang membuat secara umum semua tempek mengalami krisis air. Namun yang paling parah dialami tempek-tempek di bagian hilir,” ungkap Setiani.

Jero Setiani menuturkan di wilayah subak Tampuagan memang banyak terdapat kepiting yang berkeliaran di areal persawahan. Sehingga kepiting tersebut merusak tanaman padi. Bahkan seiring populasi yang sangat banyak, mengakibatkan tingkat kerusakan jaringan juga cukup parah, hingga air banyak merembes ke daerah bawah sampai ke sungai. ”Kepiting itu banyak sekali dan membuat rumah di saluran tersier, sehingga air saluran jadi bocor, air merembes ke bawah,” akuinya.

Baca juga:  Koptan Mambal Lestari Bangun Jaringan Pemasaran Beras Sehat

Dikatakannya, sebelumnya pihaknya memang sempat mendapat bantuan perbaikan jaringan, namun baru sebagian kecil, mengingat saluran tersier sangat panjang-panjang. Karena dari hulu sampai ke hilir rata-rata mencapai 2 kilo meter. Memang diakui akan kembali ada rencana perbaikan saluran dari pemerintah.”Ada rencana perbaikan tahun ini, di telabah 1,500 meter, telabah 2, 240 meter dan telabah 3,240 meter. Semoga bantaun itu cepat dilakukan, harapnya.

Sementara itu seorang petani di Tempek Tabunan I Wayan Karpa mengakui jika memang sejak dua tahun belakangan ini dirinya kesulitan untuk menanam padi akibat krisi air. Tak hanya dirinya saja yang tak bisa menanam padi, petani lainnya juga mengalami hal serupa.

“Untuk Tempek Tabunan saja luas 23 hektar lahan tak bisa tanam padi karena krisi air. Belum lagi tempek yang lainnya. Karena disini ada lima tempek. Kondisi ini memaka saya terus membeli beras. Dan lahan sekarang ini saya tanami palawija,” ucap Wayan Karpa. (eka prananda/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.