I Wayan Djebeg saat dirawat di RS. (BP/ist)
GIANYAR, BALIPOST.com – I Wayan Djebeg merupakan salah satu seniman alam asal Banjar Batur, Desa Batubulan, Sukawati. Maestro tabuh lelambatan ini pun sudah menjajagi panggung di berbagai negara, serta menerima puluhan penghargaan sebagai seniman tabuh. Namun kini di usia 85 tahun, seniman yang akrab disapa Pekak Djebeg ini mulai sakit dan sedang menjalani perawati di ICU (Intensive Care Unit) Ari Santi, Desa Mas, Ubud.

Cucu dari Pekak Djebeg, I Wayan Eka Jaya Suputra menyatakan bahwa kakeknya sempat tidak sadarkan diri karena sakit. Sampai saat ini pun Pekak Jebeg tidak bisa diajak berkomunikasi. “Kakek sekarang dirawat di ruang ICU, belum ada yang diperbolehkan menjenguk kecuali keluarga,” ucapnya, Senin (22/5).

Wayan Eka mengungkapkan sakit yang diderita kakeknya ini memang terkesan mendadak. Berawal dari Minggu (14/5) dini hari sekitar pukul 02.00 wita, Pekak Djebeg sempat dilarikan ke UGD Rumah Sakit Ganesha. “Sempat mendapat perawatan disana, tapi karena diperkirakan hanya maag, akhirnya sekitar Minggu dini hari pukul 04.00 wita sudah diizinkan pulang,” ucapnya.

Setiba di rumah pun Pekak Djebeg sempat beristrahat, namun tidak berselang lama sekitar pukul 06.00 wita, ia mulai kesakitan meronta-ronta. Pihak keluarga pun lantas melarikan suami dari almarhum Ni Wayan Lembon itu ke Rumah Sakit Ari Shanti Desa Mas Ubud. “Dari keterangan dokter terlihat gumpalan di kepala kakek, dan disaluran kencing ada bakteri menyumbat serta saraf yang tidak berfungsi,” katanya.

Baca juga:  Penertiban Parkir di Ubud Mulai Kendor, Komitmen Pemkab Dipertanyakan

Ditambahkan menurut keterangan dokter, Pekak Djebeg memang kelelahan karena diusia yang sudha senja ini masih banyak berkesenian. “Sebelum ini kakek tidak pernah sakit, jadi aktivitasnya pun cukup padat, dari mengajar tabuh serta mengikuti sejumlah pementasan barong,” jelasnya.

Selama berkesenian, Pekak Djebeg kerap berkeliling Eropa, dan sekitar tahun 1999 I Wayan Djebeg sempat membawa tabuh lelambatan ke India.

Wayan Eka mengatakan sampai saat ini Pekak Djebeg memang dikenal sebagai Maestro Tabuh Lelambatan. “Dulu kakek menyampaikan bahwa Tabuh Lelambatan ini memang ada sejak lama, hanya kakek membuat berbagi versi sehingga akhirnya popular di berbagai kalangan seniman,” katanya.

Disinggung bantuan pemerintah untuk Pekak Djebeg yang dikenal sebagai maestro tabuh lelambatan, Eka mengaku sampai saat ini belum ada. Bahkan sampai kini belum ada pejabat di Pemkab Gianyar yang khusus menengok seniman itu ke ruang ICU RS Ari Canti Desa Mas Ubud. (Manik Astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.