Sejumlah ibu mepeed membawa gebogan di Petang, Badung. Kegiatan ritual keagamaan menjadi salah satu daya tarik pengembangan desa wisata di Badung. (BP/eka)
MANGUPURA, BALIPOST.com – Sebanyak 11 Desa Wisata di Badung Utara, akan dibangkitkan kembali oleh Dinas Pariwisata (Diparda) Kabupaten Badung. Beberapa waktu lalu, Diparda telah melakukan koordinasi dengan 36 stakeholder Desa Wisata membahas rencana itu.

Ketika dikonfirmasi, Kamis (11/5), Kepala Diparda Badung I Made Badra menjelaskan pertemuan melibatkan pengelola Desa Wisata, PHRI, Badan Promosi Wisata Daerah, serta melibatkan ASITA. Dalam pertemuan tersebut, terungkap berbagai kendala yang dihadapi pengelola Desa Wisata.

Bahkan, ia mengaku di 31 Mei mendatang, akan ada sebanyak 400 wisatwan, terdiri dari tour operator yang akan melakukan fun trip ke desa wisata. Sedangkan di Juli nanti juga akan ada sebayak 2.500 wisatawan dari India yang siap mengunjungi desa wisata. Sedangkan, pada September diperkirakam sebanyak 1.200 wisatawan akan berkunjung ke desa wisata.

Selain itu, banyak masukan yang diterima untuk pengembangan Desa Wisata. “Dalam konsep yang sedang dimatangkan, kami akan membagi desa wisata menjadi tiga kawasan,” ujarnya.

Tiga kawasan tersebut yaitu, pertama kawasan Petang dengan titik poinnya di Puri Carangsari dengan Tugek House, kemudian kawasan Abiansemal yang titik poinnya di Puri Bongkasa, serta kawasan Mengwi, dengan Pura Taman Ayun-nya. Dipaparkannya, jumlah desa wisata kini ada 11. Kemungkinan bisa bertambah dalam bentuk desa penyangga.

Konsep tersebut sudah sangat jelas, sesuai dengan arahan Bupati Badung, I Nyoman Giri Prasta tentang pemerataan kue pariwisata antara Badung Selatan dengan Badung Utara. Menurutnya, Badung selama ini menjadi pusat industri pariwisata. “Untuk Badung utara pengembangan Desa Wisata akan menjadi motor pengerak pariwisata di sana,” katanya.

Sejalan dengan hal tersebut, pihaknya bersama Bappeda saat ini sedang menyusun rancangan anggaran pembiayan untuk penataan desa wisata, termasuk di dalamnya penyediaan akomodasi kamar, seperti homestay. Bahkan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan sendiri saat ini memiliki program, 1.000 homestay, dan Bali masuk dalam program ini. “Bupati telah menyatakan komitmennya siap mengalokasikan anggaran untuk pengembangan Desa Wisata. Saat ini kita masih menyusun kebutuhan anggarannya,” tambahnya. (Yudi Karnaedi/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.