MANGUPURA, BALIPOST.com – AirNav Indonesia cabang Denpasar yang merupakan penyelenggara pelayanan navigasi penerbang, terus berkomitmen memberikan pelayanan maksimal. Ini merupakan hal yang mutlak perlu dilakukan karena menyangkut masalah keselamatan banyak orang.

Dengan jumlah karyawan 157 orang, 50 orang terdiri dari karyawan wanita. Untuk itu, dalam rangka menyambut hari kartini, Jumat (21/4) seluruh karyawan wanita di lingkungan AirNav Indonesia Cabang Denpasar mengenakan pakaian kebaya dalam bertugas.

Ini dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai patriotis yang dimiliki Kartini. Tidak hanya meniti karir dan mencari nafkah, namun juga harus tahu sosok Kartini dan jasa-jasanya. Sehingga mordernisasi pemikiran dan perasaan kebangsaan dari Kartini itu, ada di hati mereka.

APP/TMA Supervisor AirNav Indonesia, Denpasar, Ni Luh Putu Eka Laksemi didampingi TWR Supervisor, Heidi Olivia menyampaikan, kegiatan ini dilakukan untuk memberikan inspirasi bagi wanita-wanita di Indonesia, dalam menggali potensi dan jati diri masing-masing. Menurutnya bekerja di AirNav merupakan pekerjaan yang memiliki resiko yang sangat besar, karena menyangkut nyawa banyak orang.

Baca juga:  Pengamanan Kawasan Bandara Diperketat

Saat ini, AirNav Denpasar menangani sebanyak 5 Bandara diantaranya Bandara Ngurah Rai , Blimbingsari, Wisnu, Jember dan Lombok. Dalam pengatutan Navigasi tersebut, khususnya di Bali, tentu masih banyak kendala yang dihadapi.

General Manager AirNav Denpasar, Maskon Humawan, ketika dikonfirmasi mengatakan kendala yang dialami oleh AirNav kususnya di Bandara Ngurah Rai adalah masalah kapasitas. Banyak penerbanga yang ingin masuk ke Bali, namun tidak semua bisa terlayani.

Saat ini, yang bisa ditangani baru sebanyak 25 penerbangan per jamnya. Namun, pihaknya mengatakan, sebelumnya sudah dilakukan peningkatan dengan perubahan prosedur yaitu penambahan sebanyak 2 penerbangan. Sehingga total menjadi 27 penerbangan per jam nya.

“Di bandara Ngurah Rai, AirNav menghandle pergerakan penerbangan sebanyak 400-450 per hari. Namun kendala yang dihadapi adalah masalah kapasitas. Kapasitas itu bisa di terminalnya, bisa di landasannya, di Apron maupun di ruang Udara. Kapasitas juga bisa menyangkut kapasitas ATC nya, dia bisa menghandle pesawat per jam nya berapa,” ujar Maskon. (Yudi Karnaedi/balipost)

Advertisements

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.