Pekerjaan
Ilustrasi. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com- Komisi I DPRD Bali resmi menutup Posko Pengaduan terkait perekrutan tenaga kontrak di RSUD Bali Mandara (RSBM) pukul 13.00 wita, Senin (17/4). Selama satu pekan, dewan telah mengantongi pengaduan dari 10 pelamar. Mereka secara umum mempertanyakan transparansi proses rekrutmen.

Ketua Komisi I DPRD Bali, Ketut Tama Tenaya mengatakan, pimpinan dewan juga bersurat ke gubernur. Isi surat antara lain meminta semua data hasil Computer Assisted Test (CAT) dan tes wawancara. Termasuk meminta kronologis mekanisme perekrutan dari awal sampai akhirnya banyak menimbulkan protes pelamar.

“Kedua, kita menyarankan menyetop dulu semua kegiatan yang berkaitan dengan proses perekrutan ini sebelum mengambil keputusan final sebab kita dengar tes kesehatan jalan terus. Seolah-olah lembaga dewan dilecehkan, padahal sudah disepakati dalam rapat kerja bahwa kita akan membukan posko pengaduan selama 1 minggu,” ujar Politisi PDIP ini.

Tama menambahkan, masalah dalam proses rekruitmen tenaga kontrak RSBM terletak pada tes wawancara selain tes kompetensi dasar melalui CAT. Tak sedikit yang mendapat ranking di atas dalam CAT, akhirnya gugur pada tes wawancara.

Sebaliknya, pelamar dengan ranking rendah sesuai hasil CAT justru lolos ke tahapan selanjutnya yakni tes kesehatan. “Sistem CAT itu bagus, cuma koq terakhir ada interview mengalahkan hasil CAT. Itu yang ranking jauh (di bawah) bisa menyalip rangking atas. Wawancara itu boleh ketika ada nilai draw, itu diwawancara untuk merontokkan salah satu, bukan menyalahkan yang diatas ini,” jelasnya.

Tama juga menilai Pemprov hanya mencari-cari alasan bila tes wawancara dilakukan untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris pelamar. Pasalnya, gubernur sendiri mengakui pewawancara memiliki keterbatasan dalam berbahasa Inggris. Hal itupun dikuatkan oleh pernyataan salah seorang pelamar yang datang mengadu ke Komisi I.

“Hanya sekedar saja, memperkenalkan diri sendiri. Itu kan bahasa Inggris standar. Introduce your self, anak sekolah saja bisa. Jadi tidak mencerminkan dunia kerja,” ujar pelamar yang enggan disebut namanya ini.

Menurutnya, hasil tes wawancara itu juga tidak dibuka kepada pelamar. Berbeda dengan hasil CAT dari BKN yang langsung keluar 5 menit setelah tes berakhir. Anggota Komisi I DPRD Bali, Ida Gede Komang Kresna Budi mengatakan, CAT saja sebetulnya telah memakai standar nasional. Selain menunjukkan kompetensi, tes itu juga mewakili kepribadian, etika, dan kejujuran pelamar. Berbeda dengan tes wawancara dan tes kesehatan yang seringkali bermasalah.

Baca juga:  Jalur Culali Macet Sepanjang 3 Km Hingga Berjam-jam

Salah satu hal ganjil yang dilihatnya adalah, peserta yang dinyatakan lulus dan bisa mengikuti tes kesehatan untuk D3 Keperawatan berjumlah 159 orang. Sedangkan kuota yang dicari sebetulnya 129 orang.

“Itu artinya ada 30 orang lagi yang harus dikeluarkan, ini mau dicari-cari dia sakitnya biar gugur 30 orang. Bisa ada kelainan jantung, ada panu, kadas, kurap jadinya ini. Dicari-cari nanti alasan, jadi proses ini sudah tidak berjalan dengan sebenarnya,” ujar Politisi Golkar asal Buleleng ini.

Kresna Budi menambahkan, dari 10 pengaduan, satu diantaranya berasal dari atlet yang melamar sebagai satpam di RSBM. Atlet itu sebelumnya meraih juara III Komite Prapemula 60 Kg Kejuaraan Karate Nasional Tahun 2015. Kendati sudah mengikuti seluruh prosedur tes dengan nilai baik, mengikuti wawancara, bahkan pernah menjadi karyawan selama pembangunan RSBM, justru dinyatakan tidak lulus. “Mestinya kan atlet, apalagi berprestasi itu diproritaskan,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Bali I Ketut Rochineng, mengatakan proses rekrutmen tenaga kontrak di RSBM melebihi standar rekrutmen CPNS. Pasca dinyatakan lolos seleksi administrasi, para pelamar harus mengikuti Computer Assisted Test (CAT) dan wawancara sekaligus. Setelah itu, pelamar yang lolos CAT dan wawancara masih harus mengikuti tes kesehatan. Berbeda dengan rekrutmen CPNS yang hanya menggunakan CAT atau tes kompetensi dasar (TKD) tanpa wawancara.

“Kalau di RSBM, TKD dikombinasikan dengan tes wawancara untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas karena tes TKD saja, kita hanya bisa mengetahui peserta itu dari aspek intelegensi saja. Tetapi performance, keterampilan teknis, dan kemampuan berbahasa Inggrisnya itu kita tidak tahu,” jelasnya.

Rochineng menambahkan, SDM yang dimiliki RSBM memang harus menguasai bahasa Inggris lantaran rumah sakit ini menerapkan standar internasional. Dengan harapan, mereka tidak kagok saat harus menghadapi pasien orang asing. Kemudian soal performance, juga dikatakan penting. Dengan kata lain, pegawai di RSBM tidak hanya pintar dan fasih berbahasa Inggris. Tapi juga harus berpenampilan menarik. “Kalau hanya orang pintar, IQ tinggi, nanti matanya jereng atau orangnya pendek, hitam, kurus kering kan bisa pintar juga,” imbuhnya. (rindra/balipost)

 

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.