
NEGARA, BALIPOST.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menyalurkan bantuan sosial senilai Rp304 juta disalurkan kepada 30 warga Kabupaten Jembrana yang mengalami kerugian akibat bencana, termasuk petani yang gagal panen karena kekeringan.
Bantuan tersebut diserahkan langsung Wakil Gubernur (Wagub) Bali, I Nyoman Giri Prasta, didampingi Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Provinsi Bali, I Gede Teja, di Balai Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, Jembrana, Kamis (5/11).
Dari total bantuan yang disalurkan, sebanyak tiga orang menerima bantuan perbaikan rumah masyarakat, sedangkan 27 orang lainnya memperoleh bantuan penguatan ekonomi. Penerima bantuan penguatan ekonomi tersebut merupakan petani dari Desa Kaliakah, Manistutu, dan Banyubiru yang mengalami gagal panen akibat bencana kekeringan.
Wagub Giri Prasta mengatakan, pemerintah memberikan perhatian terhadap perjuangan para petani yang tetap berupaya produktif di tengah kondisi musim kemarau. Namun, kondisi cuaca dan keterbatasan sumber air menyebabkan sebagian petani mengalami gagal panen sehingga membutuhkan dukungan pemerintah.
Ia mengapresiasi kerja keras petani yang selama ini berupaya menjaga produktivitas pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan petani menanggung sendiri kerugian akibat bencana.
“Sebagian petani kita ternyata mengalami gagal panen. Bapak Gubernur tidak ingin para petani ini gagal begitu saja tanpa ada perhatian. Karena itu, pemerintah hadir untuk membantu mengatasi kerugian yang dialami,” ujarnya.
Giri Prasta menjelaskan, bantuan bagi 27 petani tersebut merupakan penyaluran tahap pertama. Sementara itu, Pemkab Jembrana masih mengusulkan bantuan tahap kedua bagi petani terdampak kekeringan. Usulan tersebut saat ini masih dalam proses verifikasi oleh pihak terkait.
Dalam kesempatan tersebut, Giri Prasta juga berdialog langsung dengan para petani untuk menyerap berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan. Salah satu kendala utama yang disampaikan petani adalah terbatasnya akses air untuk mengairi lahan pertanian selama musim kemarau.
Petani mengungkapkan, keberadaan sumur bantuan belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Sebab, sebagian sumur masih menggunakan mesin berbahan bakar solar sehingga membutuhkan biaya operasional yang cukup besar.
Selain persoalan pengairan, petani juga menyampaikan kebutuhan sarana pertanian, seperti traktor, untuk mendukung kegiatan pengolahan lahan.
Petani turut berharap adanya kepastian harga gabah agar hasil panen dapat terserap dengan harga yang stabil dan sesuai ketentuan.
Aspirasi tersebut menjadi perhatian Wagub Giri Prasta yang berjanji menampung dan mengupayakan pemenuhannya melalui kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan provinsi.
Sementara itu, penyaluran bantuan di Jembrana kali ini merupakan penyerahan yang kesepuluh sepanjang 2026. Sebelumnya, Pemprov Bali telah sembilan kali menyalurkan bantuan dengan total nilai Rp507,5 juta.
Dengan tambahan bantuan Rp304 juta, akumulasi bantuan sosial kebencanaan yang disalurkan kepada masyarakat Jembrana hingga November 2026 mencapai Rp811,5 juta.
Secara keseluruhan, bantuan sosial kebencanaan Pemprov Bali hingga saat ini telah mencapai Rp11,7 miliar untuk 533 penerima yang tersebar di seluruh Bali. Kabupaten Badung tidak termasuk dalam penyaluran tersebut karena telah memiliki kemampuan penanganan bantuan secara mandiri.
Dalam penyerahan bantuan tersebut, Wagub Giri Prasta turut didampingi Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, serta Kalaksa BPBD Kabupaten Jembrana. (Ketut Winata/balipost)










