Pembahasan pengembangan inovasi SATYA DASI dalam rapat di Ruang Rapat Kesbangpol Buleleng, Kamis (5/11). (BP/istimewa)

SINGARAJA, BALIPOST.com – Pemerintah Kabupaten Buleleng terus memperkuat upaya deteksi dini terhadap potensi kerawanan sosial dan gangguan stabilitas daerah. Salah satu langkah yang dikembangkan melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Buleleng adalah inovasi SATYA DASI (Sistem Analisis Terpadu untuk Kewaspadaan dan Layanan Antisipatif berbasis Data Strategis Terintegrasi).

Pengembangan inovasi tersebut dibahas dalam rapat di Ruang Rapat Kesbangpol Buleleng, Kamis (5/11), yang dipimpin Kepala Badan Kesbangpol Buleleng, Drs. Nyoman Widiartha. Sistem ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai informasi strategis sebagai dasar pengambilan kebijakan sekaligus membantu pemerintah mengidentifikasi potensi permasalahan sejak dini.

Widiartha mengatakan, selama ini informasi strategis masih tersebar di berbagai bidang maupun instansi. Pengumpulan dan konsolidasi data yang sebagian masih dilakukan secara manual membutuhkan waktu cukup panjang. Kondisi tersebut berdampak pada proses analisis risiko dan penyusunan rekomendasi yang belum berjalan optimal. “Mengidentifikasi potensi permasalahan lebih awal, sehingga langkah antisipasi bisa dilakukan sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih besar,” ujarnya.

Baca juga:  Kejati Bali Mediasi Keberatan Pemilik Tanah Atas Ganti Rugi Lahan Shortcut Tahap II

Ia menjelaskan, SATYA DASI tidak sekadar diarahkan untuk membangun aplikasi, tetapi juga memperbaiki tata kelola informasi dan memperkuat koordinasi antarinstansi. Sistem ini memiliki alur kerja mulai dari pengumpulan data, analisis, peringatan dini (early warning), penyusunan rekomendasi, pengambilan keputusan, respons hingga evaluasi.

Melalui sistem tersebut, informasi dari berbagai sumber diharapkan dapat diolah menjadi bahan analisis yang lebih terukur. Dengan demikian, pemerintah daerah memiliki gambaran lebih awal mengenai potensi konflik sosial maupun persoalan lain yang dapat memengaruhi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Baca juga:  Hujan Deras Picu Pohon Tumbang dan Tanah Longsor di Buleleng

Dalam penerapannya, SATYA DASI menargetkan pengurangan waktu penyediaan dan konsolidasi informasi strategis sebesar 30 hingga 50 persen. Selain itu, inovasi ini juga menargetkan keterlibatan 80 persen pemangku kepentingan prioritas, adopsi sistem oleh seluruh bidang sasaran, serta efektivitas minimal dua kategori peringatan dini.

Penguatan sumber daya manusia turut menjadi perhatian dalam pengembangan inovasi tersebut. Sejumlah langkah disiapkan, di antaranya bimbingan teknis, pendampingan melalui coaching dan mentoring, pelatihan analisis data serta penilaian risiko (risk assessment). Simulasi penanganan potensi gangguan juga menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan sumber daya manusia.

Baca juga:  Data Pasien COVID-19 di Bali Diduga Bocor, Memang Mau Diapain Datanya?

Widiartha menegaskan, keberhasilan penerapan SATYA DASI tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi. Dukungan dan komitmen seluruh perangkat daerah dalam menyediakan, memperbarui, serta berbagi informasi menjadi faktor penting agar sistem dapat berjalan efektif.

“Teknologi saja tidak cukup. Diperlukan komitmen seluruh pihak untuk membangun koordinasi dan berbagi informasi sesuai kebutuhan. Kami berharap SATYA DASI menjadi instrumen pendukung dalam pengambilan kebijakan yang lebih terukur sekaligus memperkuat stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat,” tegasnya. (Yudha/balipost)

BAGIKAN