Suasana Rapat Paripurna ke-56 DPRD Bali Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027, di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD abali, Jumat (30/10). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster mendorong agar kebijakan dan penganggaran sektor kesehatan di Bali lebih memprioritaskan upaya promotif dan preventif dibandingkan kuratif. Selain meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, langkah tersebut dinilai dapat menekan biaya perawatan ketika masyarakat jatuh sakit.

Penegasan tersebut disampaikan Koster saat menanggapi pandangan umum fraksi-fraksi DPRD Bali terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Semesta Berencana Provinsi Bali Tahun Anggaran 2027 dalam Rapat Paripurna ke-56 DPRD Bali, Jumat (30/10).

Koster menyatakan sependapat dengan pandangan fraksi-fraksi yang meminta pemerintah daerah lebih mengutamakan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Menurutnya, pendekatan tersebut perlu menjadi perhatian dalam menentukan arah kebijakan sekaligus alokasi anggaran kesehatan.

Baca juga:  TKD 2026 Dipangkas, Denpasar Harus Hitung Ulang Anggaran

“Saya sependapat dengan pandangan fraksi mengenai pentingnya memprioritaskan upaya-upaya promotif dan preventif kesehatan karena hal ini dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di satu sisi, dan mengurangi biaya kuratif (perawatan kesehatan,red),” kata Koster.

Ia menegaskan, pelayanan kesehatan tidak semestinya hanya berorientasi pada penanganan pasien setelah terserang penyakit. Upaya menjaga kesehatan sejak dini perlu diperkuat agar masyarakat dapat mengurangi risiko sakit dan tidak selalu bergantung pada layanan pengobatan.

“Nah ini dia bagus, lebih menekankan pada preventif daripada kuratif,” ujarnya.

Baca juga:  Masih Kecil, Peran Swasta di Riset

Koster kemudian mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan sebagai bagian dari pola hidup sehari-hari. Menurutnya, masyarakat perlu berupaya mempertahankan kondisi tubuh tetap sehat sehingga kebutuhan terhadap pengobatan dapat ditekan.

“Jadi memang bagusnya kita hidup begitu, jadi kalau bisa, kalau bisa ya jangan sakit-sakit terus,” katanya.

Ia juga menyinggung pentingnya mengatur pola hidup agar masyarakat dapat terhindar dari penyakit. “Bagaimana memanage hidup ini supaya nggak pernah sakit-sakit,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Koster sempat menyinggung bahwa dirinya memiliki satu jurus agar tidak gampang sakit. Pernyataannya itu disampaikan dengan nada ringan dan mengundang tawa peserta rapat.

Baca juga:  Reaksi Setiap Zodiak Saat Menghadapi Tekanan dan Beban Emosional

“Jangan sakit, kalau bisa, flu pun jangan gitu, jadi sehingga dengan demikian hidup kita jadi sehat terus,” katanya.

Koster kemudian kembali menyinggung jurus yang dimilikinya tersebut, tetapi tidak menguraikannya lebih jauh dalam pernyataan yang disampaikan saat itu.

“Jurusan cuman satu, cuman saya gak mau sebut di sini,” ujarnya disambut tawa.

Berdasarkan APBD 2026, Urusan Kesehatan dianggarkan Rp930.034.765.214 (16,11 %) dari mandatory spending. Rinciannya, fungsi pendidikan dianggarkan Rp2.843.569.537.359 atau 39,69 %. Pegawai (diluar TPG dan Tamsil) Rp2.189.772.747.383 (30,68 %), Infrastruktur Pelayanan Publik Rp1.990.465.418.544 (27,08 %), dan Urusan Kesehatan Rp930.034.765.214 (16,11 %). (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN