Gubernur Bali, Wayan Koster turun memantau upaya percepatan distribusi BBM dengan mengunjungi Depo Pertamina Pesanggaran, Denpasar Selatan, Kamis (15/10) siang. (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster kembali membantah keras tudingan dirinya menghardik petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di tengah situasi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali belum lama ini. Ia menegaskan, video insiden yang beredar luas di media sosial telah dipotong sehingga tidak menggambarkan kejadian secara utuh.

Penjelasan tersebut disampaikan Gubernur Koster dalam Rapat Paripurna DPRD Bali di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Jumat (30/10). Di hadapan pimpinan dan anggota DPRD Bali, Koster memaparkan kronologi kedatangannya ke SPBU yang saat itu tutup, meskipun antrean kendaraan mengular panjang.

Menurut Koster, kedatangannya ke SPBU tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan kesiapan pelayanan kepada masyarakat di tengah persoalan pasokan BBM. Ia menilai, pelayanan sektor energi harus tetap menjadi perhatian setiap saat, termasuk di luar jam kerja biasa.

Baca juga:  Wisata Tahura Ngurah Rai, Minim Sarana Penunjang hingga Serbuan Sampah Saat Pasang

Saat melakukan pengecekan, Koster mengaku mendapati SPBU dalam kondisi tutup ketika masyarakat masih mengantre untuk mendapatkan BBM. Kondisi itu membuatnya mempertanyakan penyebab operasional SPBU tidak berjalan.

“Maka saya minta, siapa yang menjadi pimpinan SPBU di sini? Tolong sampaikan, ‘Kenapa enggak buka?’ Ini ada malfungsi, apa yang terganggu?” ungkap Koster.

Ia mengatakan, pertanyaan tersebut dilontarkan untuk mengetahui persoalan yang menyebabkan SPBU tidak beroperasi sekaligus mendorong agar pelayanan kepada masyarakat segera dibuka kembali.

Koster menduga, kedatangannya secara mendadak membuat petugas yang bersangkutan gugup. Namun, situasi kemudian berkembang menjadi kesalahpahaman ketika terjadi perbedaan respons antara dirinya dan petugas di lokasi.

Gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng, itu menegaskan, tujuan kedatangannya bukan untuk memarahi petugas, melainkan memastikan pelayanan BBM kepada masyarakat berjalan sebagaimana mestinya.

Meski membantah menghardik petugas seperti yang ditudingkan, Koster tidak menampik adanya kekeliruan dalam merespons situasi tersebut. Ia mengakui ikut terpancing emosi ketika petugas yang dihadapinya merespons dengan nada tinggi.

Baca juga:  Dari Sebelum Terkonfirmasi COVID-19, Sutena Sudah Jalani Vaksinasi hingga Jumlah Terkonfirmasi Baru Kembali Turun

“Jadi, salahnya saya, pegawai itu marah, saya ikut marah. Begitu salahnya itu, salah saya,” ungkapnya dengan nada santai dan mengundang gelak tawa peserta rapat paripurna.

Koster juga mengakui menerima berbagai masukan dan kritik konstruktif setelah video insiden itu beredar di media sosial. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengalaman yang dapat dijadikan bahan evaluasi, termasuk dalam mengendalikan emosi ketika menghadapi persoalan di lapangan.

Ia bahkan menceritakan bahwa persoalan tersebut masih berlanjut ketika dirinya pulang ke rumah. Sang anak turut memberikan respons terhadap insiden yang telanjur viral tersebut.

“Sampai rumah saya kepikiran, malah saya tambah dimarahin lagi di rumah sama anak,” kelakarnya.

Insiden tersebut menjadi perhatian publik karena terjadi ketika Bali tengah menghadapi persoalan pasokan BBM yang sempat memicu antrean panjang di sejumlah SPBU.

Baca juga:  Cuma 2 Kabupaten Tambah Kasus 1 Digit, Satu Zona Orange Laporkan 3 Digit

Dalam situasi tersebut, kesiapan operasional SPBU dan kelancaran distribusi BBM menjadi perhatian penting untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.

Penjelasan Koster di hadapan DPRD Bali sekaligus menjadi klarifikasi atas video yang beredar. Ia menekankan bahwa rekaman yang tersebar tidak memperlihatkan keseluruhan konteks kejadian, termasuk maksud kedatangannya untuk mengecek pelayanan BBM.

Meski demikian, Koster secara terbuka mengakui bahwa dirinya juga melakukan kesalahan karena ikut terpancing emosi dalam interaksi dengan petugas.

Koster pun menyampaikan bahwa dirinya menerima kritik yang muncul setelah kejadian tersebut. Di tengah upaya penanganan persoalan BBM di Bali, peristiwa itu menjadi pengingat pentingnya komunikasi yang baik dan pengendalian emosi dalam memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan optimal. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN