
SINGASANA, BALIPOST.com – Tiga rumah warga di Perumahan Puskopad 2, BTN Sanggulan, Desa Banjar Anyar, Kecamatan Kediri, Tabanan, tertimpa longsor saat hujan deras, Selasa (27/10) sekitar pukul 20.00 Wita. Akibat kejadian tersebut, satu rumah mengalami kerusakan paling parah dan seorang warga mengalami luka sehingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Pantauan Rabu (28/10), petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan bersama warga dan pemilik rumah masih berjibaku membersihkan material lumpur serta menyelamatkan barang-barang berharga yang masih bisa digunakan. Sejumlah keluarga terdampak juga terpaksa mengungsi sementara ke rumah tetangga atau saudara terdekat.
Salah seorang korban, Ferdinano Vitson Pura (56), menceritakan detik-detik longsor menerjang rumahnya. Saat hujan deras, ia sedang berusaha memperbaiki genteng bocor dari dalam ruang tamu dengan berdiri di atas kursi. Namun, tiba-tiba material longsor menghantam badannya hingga membuatnya terpental dari kursi. “Saya terasa seperti melayang dan terbang, lalu tertimpa material longsor,” tuturnya saat ditemui di lokasi kejadian.
Tidak hanya dirinya, putrinya, Veronica Sulastri Putri Pura (22), juga ikut tertimpa material. Mendengar teriakan minta tolong, sejumlah tetangga pun berdatangan untuk membantu mengevakuasi keduanya. Veronica kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan akibat luka pada bagian tangan, kaki, dan perut.
Ferdinano sendiri mengaku masih mengalami trauma atas kejadian tersebut. Pasalnya selama 16 tahun tinggal di perumahan itu, ia menyebut baru kali ini mengalami musibah longsor. Ia menduga kejadian tersebut dipicu derasnya aliran air dari lahan kosong di atas rumahnya, terlebih setelah wilayah itu mengalami kemarau panjang.
Meski rumahnya rusak, Ferdinano mengaku tetap ingin bertahan di lokasi tersebut. Untuk sementara, ia bersama keluarganya menumpang di rumah tetangga sambil memikirkan perbaikan tempat tinggalnya. “Kami tetap akan tinggal di sini. Mau pindah ke mana? Untuk sementara, kami tinggal di rumah tetangga,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait membangun senderan yang kuat di kawasan perumahan bagian atas agar aliran air tidak langsung mengarah ke rumah warga di bawahnya. Longsor juga merusak ruang suci dan gudang milik Yuda Prawira Putra (33).
Saat kejadian, Yuda bersama beberapa tetangga sedang membantu mengevakuasi Ferdinano dan putrinya. Namun, setelah keduanya berhasil diselamatkan, ia mendengar suara gemuruh dari belakang rumahnya. “Saat itu ada teriakan minta tolong. Saya bersama beberapa tetangga mencoba membantu. Tidak lama kemudian, terdengar suara gemuruh lagi dari belakang rumah saya. Ruang suci dan gudang ikut terkena material longsor,” ungkapnya.
Beruntung, anggota keluarga Yuda sempat menyelamatkan diri sehingga tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.
Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga turun langsung meninjau lokasi bencana sekaligus menemui para korban untuk memberikan bantuan. Ia menegaskan, kejadian tersebut tentu menjadi peringatan penting bagi semua pihak untuk lebih memperhatikan keselamatan lingkungan, terutama dalam pembangunan perumahan.
Menurut Dirga, penanganan aliran air dan pengamanan lingkungan harus menjadi perhatian sejak awal pembangunan. Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara pengembang, pemerintah wilayah, desa dinas, dan pemerintah daerah untuk mencegah bencana serupa.
“Banyak hal yang perlu dievaluasi, termasuk kemungkinan pelanggaran yang memicu bencana. Pengembang harus dipanggil dan dimintai pertanggungjawaban. Jika persoalan tidak bisa diselesaikan sendiri, harus dikoordinasikan dengan pemerintah agar segera ditemukan solusi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Tabanan I Nyoman Srinada Giri mengimbau masyarakat tetap waspada memasuki musim hujan. Menurutnya, kondisi tanah setelah kemarau panjang berpotensi menjadi labil ketika diguyur hujan deras.
Ia menjelaskan, salah satu rumah mengalami kerusakan parah setelah material longsor dan pohon yang tergerus menghantam bangunan. Selain itu, bencana juga berdampak di kawasan perumahan Panorama, Banjar Anyar, Kediri, tembok garasi rumah warga juga terdampak akibat jebolnya saluran air subak. “Proses pembersihan membutuhkan waktu cukup lama, karena kondisi lokasi longsor yang sempit dan sulit dijangkau membuat penggunaan alat berat tidak memungkinkan, jadi bekerja manual,” ucapnya.
Sementara, gotong royong pembersihan material akan dilanjutkan pada Jumat untuk membantu membersihkan rumah korban. Di sisi lain, BPBD Tabanan mengusulkan tambahan anggaran penanganan pascabencana sebesar Rp2 miliar melalui anggaran perubahan 2026. Usulan tersebut diajukan karena anggaran induk sebesar Rp2,6 miliar telah habis terserap untuk menangani berbagai kejadian bencana sejak awal tahun.
“Kami ajukan penambahan di perubahan 2 miliar untuk memperkuat penanganan dampak bencana serta membantu masyarakat terdampak,” pungkas Giri.(Puspawati/balipost)










