
SINGASANA, BALIPOST.com – Kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) yang belum lama ini terjadi di Kabupaten Tabanan selama hampir sepekan rupanya berimbas pada distribusi salak gula pasir madu. Kondisi itu membuat petani terpaksa membatalkan tiga pengiriman dengan total pesanan mencapai 1,2 ton ke Jakarta dan Bandara Ngurah Rai, sehingga menyebabkan potensi pendapatan petani tertunda hingga Rp30 juta.
Ketua Kelompok Tani Raja Buah Bali, desa Munduk Temu, Pupuan, Ogi Darmawan mengatakan, kelangkaan BBM sebelumnya menghambat aktivitas panen dan pengangkutan hasil kebun menuju gudang. Tanpa bahan bakar, petani kesulitan mengoperasikan kendaraan untuk mengumpulkan buah yang telah dipesan pembeli.
“Hambatan utama saat itu karena mobilitas dari kebun ke gudang. Bahan bakar sulit diperoleh, kami tidak bisa memastikan panen dan pengiriman berjalan sesuai jadwal. Akhirnya, tiga pesanan terpaksa kami batalkan,” ujarnya, Kamis (22/10).
Menurut Ogi, pengiriman salak gula pasir madu merupakan bagian dari permintaan rutin yang dijadwalkan setiap pekan. Dua pengiriman ditujukan ke Jakarta, sedangkan satu pengiriman lainnya untuk memenuhi permintaan di Bandara Ngurah Rai.
Total pesanan yang tidak dapat dipenuhi mencapai 1.200 kilogram atau 1,2 ton. Meski demikian, pembatalan dilakukan langsung oleh pihak petani sehingga tidak ada buah yang terlanjur dikirim dan mengalami kerusakan. Pembeli juga memahami kendala operasional yang terjadi sehingga petani tidak dikenai penalti. Dengan harga jual di tingkat petani sekitar Rp25.000 per kilogram, nilai pesanan yang batal tersebut mencapai Rp30 juta.
Ogi bersyukur kondisi distribusi kini mulai pulih seiring ketersediaan BBM yang berangsur normal. Sejak 19 Oktober 2026, petani kembali melakukan panen dan pengiriman kepada pelanggan secara rutin.
Hanya saja, produksi salak gula pasir madu masih terbatas karena belum memasuki musim panen raya. Saat ini, volume penyerapan untuk memenuhi permintaan pasar berkisar 4.800 hingga 5.600 kilogram per bulan, dengan pola pengiriman satu kali dalam sepekan.
Petani memperkirakan panen raya berlangsung pada Januari hingga Maret 2027. Namun, musim kemarau yang berlangsung panjang berpotensi memengaruhi waktu panen dan ketersediaan buah.
“Jika produksi meningkat saat panen raya, kami berharap bisa menambah frekuensi pengiriman menjadi dua kali seminggu. Dengan begitu, kebutuhan pelanggan rutin maupun pasar lokal dan pasar induk dapat dilayani lebih luas,” kata Ogi.
Peningkatan produksi diperkirakan turut memengaruhi harga jual. Ketika pasokan buah melimpah, harga di tingkat petani berpotensi turun dibandingkan harga saat ini. (Puspawati/balipost)










