Salah seorang warga membeli kebutuhan hariannya di Unit Pasar Kuta II, Badung. (BP/eka)

MANGUPURA, BALIPOST.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali, khususnya Kabupaten Badung, mulai menjadi perhatian karena berpotensi menghambat distribusi barang kebutuhan pokok. Meski demikian, hasil pemantauan pemerintah daerah menunjukkan harga dan ketersediaan bahan pangan di pasar rakyat masih relatif terkendali.

Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan (DiskopUKMP) Kabupaten Badung, Anak Agung Sagung Rosyawati, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan harga, stok, dan distribusi barang kebutuhan pokok serta barang strategis untuk mengantisipasi dampak gangguan pasokan BBM.

“Kami selalu melakukan pemantaun harga setiap hari di enam kecamatan untuk mengetahui perkembangan harga, sampai saat ini belum ada indikasi kenaikan harga terhadap 41 komoditi hahan pokok dan barang strategis di pasar. Harga cenderung stabil,” ungkap Sagung Rosyawati saat dihubungi pada Minggu (18/10).

Pemantauan harian tersebut menjadi langkah pemerintah daerah untuk mendeteksi potensi kenaikan harga sejak dini. Dengan pengawasan rutin di enam kecamatan, pemerintah berharap kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi meskipun distribusi BBM menghadapi kendala.

“Selain memantau harga, kami juga memeriksa ketersediaan stok dan kelancaran distribusi di sejumlah pasar rakyat. Berdasarkan hasil pemantauan, persediaan bahan pokok, terutama produk pertanian dan hortikultura, masih mampu memenuhi permintaan masyarakat,” terangnya.

Baca juga:  TPA Temesi Kesulitan Distribusi Produk Kompos

Menurutnya, pihaknya belum menemukan indikasi kelangkaan bahan pokok di pasar. Namun, kondisi tersebut tetap menjadi perhatian agar gangguan distribusi BBM tidak berkembang menjadi persoalan pasokan maupun kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.

“Kami terus berkoordinasi dengan PT Pertamina Patra Niaga Denpasar untuk memastikan ketersediaan BBM bagi masyarakat Bali, khususnya di Badung,” ucapnya.

Menurutnya, pasokan BBM masih tersedia untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kendala yang dihadapi saat ini terletak pada kelancaran distribusi dari Terminal BBM Manggis dan Sanggaran menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

Untuk menjaga pelayanan kepada masyarakat, DiskopUKMP Badung melalui UPT Metrologi Legal turut melakukan pemantauan dan pengawasan ke SPBU. “Langkah ini bertujuan memastikan pelayanan sesuai standar sekaligus mengantisipasi pembelian berlebihan atau panic buying,” tegasnya.

Di sisi lain, pemerintah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga ketersediaan barang kebutuhan pokok dan stabilitas harga. Salah satunya melalui operasi pasar dengan menggandeng Perum Bulog, Perumda Pasar dan Pangan Mangu Giri Sedana (MGS), serta sejumlah distributor.

Baca juga:  Kuota Cukup Tapi Keluhan Kelangkaan Elpiji 3 Kg Terus Terjadi, Ini Diduga Penyebabnya

Operasi pasar tersebut diharapkan dapat membantu menjaga pasokan barang strategis dan mengendalikan harga apabila terjadi gangguan distribusi berkepanjangan.

Pemkab Badung juga terus memonitor perkembangan situasi di lapangan. Pemerintah berharap koordinasi dengan Pertamina dan para pelaku distribusi dapat menjaga kelancaran pasokan, sehingga masyarakat tidak mengalami kesulitan memperoleh BBM maupun kebutuhan pokok.

Berdasarkan data Sistem Informasi Perdagangan, harga rata-rata cabai rawit merah di Badung mencapai Rp69.667 per kilogram. Selain di Pasar Petang, harga komoditas ini di Pasar Blahkiuh tercatat Rp73.000 per kilogram.

Sementara itu, cabai merah keriting memiliki harga rata-rata Rp42.583 per kilogram. Perbedaan harga antarpasar menunjukkan bahwa masyarakat perlu membandingkan harga sebelum berbelanja.

Pada komoditas protein hewani, daging sapi has luar dijual dengan harga rata-rata Rp133.500 per kilogram. Harga tertinggi tercatat di Pasar Kuta II sebesar Rp147.000 per kilogram.

Baca juga:  Dua Warga Diamankan Polisi Jual Gas Oplosan

Adapun harga rata-rata daging ayam ras mencapai Rp46.167 per kilogram. Daging babi berada di angka Rp83.000 per kilogram, dengan harga tertinggi Rp90.000 per kilogram di Pasar Mengwi dan Petang.

Di tengah fluktuasi sejumlah komoditas, beras SPHP Bulog masih tercatat Rp12.000 per kilogram. Harga beras premium rata-rata mencapai Rp16.383 per kilogram, dengan harga tertinggi Rp17.000 per kilogram di Pasar Kuta II dan Petang.

Beras medium I tercatat memiliki harga rata-rata Rp15.450 per kilogram. Sementara itu, minyak goreng kemasan dijual rata-rata Rp21.167 per liter dan minyak goreng curah Rp20.167 per liter.

Untuk kebutuhan dapur lainnya, harga rata-rata bawang merah mencapai Rp30.667 per kilogram, sedangkan bawang putih Rp31.167 per kilogram. Tomat dijual rata-rata Rp11.500 per kilogram dan kangkung Rp9.000 per kilogram.

Pada komoditas perikanan, harga udang rata-rata mencapai Rp75.167 per kilogram, dengan harga tertinggi Rp80.000 per kilogram di Pasar Petang. Ikan kembung tercatat Rp46.333 per kilogram. Sementara itu, LPG 3 kilogram berada pada harga rata-rata Rp21.667 per tabung. (Parwata/balipost)

BAGIKAN