
JAKARTA, BALIPOST.com – Universitas Warmadewa (Unwar) menjadi satu-satunya perguruan tinggi swasta (PTS) terakreditasi Unggul dari Bali yang terpilih mengikuti Sekolah Kepemimpinan Perguruan Tinggi Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I. Program ini menjadi wadah penguatan kepemimpinan rektor dalam menghadapi transformasi pendidikan tinggi di era kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Kegiatan yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 ini dibuka di Auditorium Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Jakarta, Rabu (21/10). Program tersebut diikuti 40 PTS terpilih dari 97 perguruan tinggi yang telah meraih akreditasi institusi Unggul di Indonesia.
Rektor Unwar, Prof. Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, M.P., menyambut baik pelaksanaan AERLA Angkatan I sebagai forum strategis untuk memperkuat kepemimpinan dan meningkatkan kualitas tata kelola perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia. Prof. Pandit menilai materi yang disampaikan Ketua Umum APTISI, Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., khususnya mengenai konsep
“Perguruan Tinggi di Atas Awan” dan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), relevan dengan tantangan pendidikan tinggi saat ini. Transformasi digital menuntut perguruan tinggi untuk tidak hanya mengandalkan model pembelajaran konvensional, tetapi juga mampu mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran, penelitian, dan tata kelola institusi.
“Di era AI, dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu utama bagi mahasiswa. Peran dosen perlu bergeser menjadi fasilitator pembelajaran, kurator informasi, serta mentor dalam membangun etika dan kemampuan berpikir kritis. Ketika mesin dapat menjelaskan berbagai konsep secara instan, fokus dosen tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga membimbing mahasiswa untuk mengolah informasi, memahami makna, mengevaluasi kebenaran, dan menghasilkan pemikiran yang berkualitas,” ungkap Prof. Pandit, Kamis (22/10).
Menurutnya, kemudahan akses terhadap informasi dan teknologi AI harus diimbangi dengan kemampuan mahasiswa untuk memilah informasi, memverifikasi sumber, memahami konteks, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. AI hendaknya menjadi instrumen pendukung proses pembelajaran, bukan pengganti nalar kritis, kreativitas, integritas akademik, dan interaksi manusia yang menjadi bagian penting dalam pendidikan tinggi.
Prof. Pandit juga memandang gagasan Perguruan Tinggi di Atas Awan sebagai perspektif penting dalam mendorong perguruan tinggi agar lebih terbuka terhadap perkembangan teknologi, memperluas akses pengetahuan, serta membangun ekosistem pembelajaran yang adaptif dan kolaboratif. Perguruan tinggi perlu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga mampu beradaptasi, berinovasi, dan mengambil keputusan secara bijaksana di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
Keikutsertaan Unwar dalam AERLA Angkatan I menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan kepemimpinan, memperkuat jejaring dengan PTS terakreditasi Unggul dari berbagai wilayah Indonesia, serta memperoleh perspektif baru dalam menghadapi transformasi pendidikan tinggi. Forum ini juga membuka ruang pertukaran pengalaman dan gagasan untuk mendorong pengembangan perguruan tinggi yang semakin bermutu dan berdaya saing.
Melalui partisipasi tersebut, Prof. Pandit mengatakan Unwar berkomitmen untuk terus mendorong inovasi pembelajaran, memperkuat kompetensi dosen, dan memanfaatkan perkembangan teknologi secara bijaksana dengan tetap menempatkan nilai-nilai akademik dan kemanusiaan sebagai landasan pendidikan. Upaya ini menjadi bagian dari langkah berkelanjutan Unwar dalam meningkatkan mutu pendidikan tinggi serta memperkuat daya saing di tingkat nasional dan internasional.
Langkah tersebut sejalan dengan visi Unwar menuju World Class University berwawasan ekowisata. Melalui penguatan kepemimpinan dan inovasi akademik, Unwar diharapkan mampu meningkatkan daya saing sekaligus memberikan kontribusi lebih besar terhadap pengembangan pendidikan tinggi nasional.
Pada hari pertama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. bersama Ketua Umum APTISI Prof. Dr. Ir. H.M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I. memberikan arahan mengenai tantangan perguruan tinggi dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk AI dan komputasi kuantum.
Menteri menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis dan analitis di tengah pesatnya perkembangan AI. Teknologi tersebut harus dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kapasitas manusia, bukan justru membuat penggunanya bergantung dan kehilangan kemampuan berpikir mandiri.
Selain tantangan teknologi, Menteri menyoroti perlunya pembenahan tata kelola program studi (prodi), penguatan keilmuan lintas disiplin, serta peningkatan relevansi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, Indonesia memiliki 34.711 program studi, 11,5 juta mahasiswa, dan 328 ribu dosen pada 2025. Dengan jumlah lulusan mencapai 2,78 juta orang per tahun, penataan program studi dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan pendidikan tinggi.
Menteri mendorong perguruan tinggi mengevaluasi program studi yang memiliki bidang keilmuan serumpun agar memungkinkan penggabungan atau penataan kembali sesuai kebutuhan. Pada 2026, sebanyak 122 program studi disebut telah ditutup atau ditransformasi.
Menurutnya, pengembangan perguruan tinggi tidak semestinya hanya berorientasi pada penambahan program studi, tetapi harus mengutamakan penguatan keilmuan yang mampu menjawab perubahan zaman.
“Yang perlu dikembangkan itu bukan prodinya, tapi keilmuannya. Prodi itu hanya administrasi. Jangan mempersempit keilmuan dengan sekat administrasi,” tegasnya.
Pendekatan lintas disiplin dinilai semakin penting karena perkembangan ilmu pengetahuan mempertemukan berbagai bidang, seperti matematika dan komputasi, biologi dan sains data, hingga hukum dan teknologi. Karena itu, pendidikan sarjana perlu membangun dasar keilmuan yang luas sebelum mahasiswa mendalami spesialisasi tertentu.
Tantangan berikutnya adalah memperkuat bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics atau STEM). Dalam pemaparan tersebut, proporsi mahasiswa STEM disebut baru mencapai 28 persen. Padahal, kebutuhan terhadap kompetensi STEM terus meningkat seiring tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan, dan transformasi digital.
Perguruan tinggi juga didorong memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Kemdiktisaintek menargetkan 62,95 persen lulusan terserap dunia kerja dalam satu tahun.
Arah kebijakan yang disampaikan mencakup penataan program studi serumpun, penguatan sains fundamental, pemanfaatan AI secara bertanggung jawab, serta penerapan konsep Kampus Berdampak agar hasil pendidikan dan penelitian memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (adv/balipost)










