
DENPASAR, BALIPOST.com – Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali yang terjadi sepekan berdampak pada kinerja sektor ritel, terutama pada kelancaran distribusi barang ke gerai-gerai penjualan. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali mencatat penurunan penjualan hingga 10 persen dan trafik kunjungan pelanggan sekitar 9-10 persen.
Ketua DPD Aprindo Bali, Asinaga Budiman, Senin (19/10), menyampaikan berdasarkan pemantauan dan laporan pelaku usaha, kondisi pasokan BBM menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu rantai distribusi barang kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah Bali.
Dampak tersebut tidak hanya berkaitan dengan aktivitas belanja masyarakat, tetapi juga kelancaran pasokan produk dari distributor ke gerai ritel. Aprindo Bali menerima informasi mengenai hambatan pasokan sejumlah produk dari distributor, termasuk Indomarco dan Unilever.
Menurutnya kelancaran distribusi dari pemasok dan distributor merupakan faktor penting untuk menjaga ketersediaan produk di tingkat gerai. Ketika distribusi terganggu, pasokan barang ke gerai berpotensi ikut terhambat, sehingga pilihan produk yang tersedia bagi konsumen dapat terdampak apabila kondisi berlangsung berkepanjangan.
Di sisi lain, penurunan trafik pelanggan sebesar 9–10 persen menunjukkan berkurangnya kunjungan masyarakat ke gerai ritel. Kondisi ini berjalan seiring dengan penurunan penjualan yang mencapai 10 persen, sehingga menjadi perhatian bagi pelaku usaha dalam menjaga aktivitas operasional di tengah persoalan pasokan BBM.
Aprindo Bali juga menyoroti potensi tekanan terhadap biaya operasional dan distribusi apabila gangguan pasokan berlangsung dalam waktu lama. Dampaknya dapat dirasakan oleh pelaku usaha ritel maupun konsumen, terutama terkait ketersediaan barang dan stabilitas harga.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas terhadap rantai pasok, Aprindo Bali meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memastikan ketersediaan serta kelancaran distribusi BBM, khususnya untuk mendukung aktivitas logistik barang kebutuhan pokok dan produk konsumsi masyarakat.
Koordinasi antara pemerintah, distributor, pemasok, perusahaan logistik, dan pelaku usaha ritel juga perlu diperkuat guna menjaga kelancaran pengiriman barang ke gerai-gerai di berbagai wilayah Bali.
Aprindo Bali turut mendorong penguatan koordinasi dengan distributor dan prinsipal, termasuk Indomarco dan Unilever, untuk mengidentifikasi hambatan pasokan serta mempercepat pemulihan distribusi produk.
Selain kelancaran distribusi, Aprindo Bali menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan barang agar gangguan rantai pasok tidak menambah tekanan terhadap konsumen maupun pelaku usaha.
Peningkatan komunikasi dan transparansi informasi mengenai perkembangan pasokan BBM juga dinilai penting agar pelaku usaha dapat menyusun langkah antisipasi operasional berdasarkan informasi yang akurat.
Sementara pelaku usaha telur Rika di Denpasar menyampaikan pengiriman telur ke pasar modern sempat mengalami hambatan karena sulitnya mendapatkan BBM. Tidak hanya pendistribusian, telur yang dikirim ke beberapa ritel juga mengalami penurunan permintaan.
Namun di tengah makin normalnya pembelian BBM di SPBU, pengiriman sudah kembali lancar. Ia berharap kini daya beli masyarakat kembali bangkit. (Suardika/balipost)










