
SINGARAJA, BALIPOST.com – Upaya melestarikan olahraga tradisional di kalangan generasi muda terus dilakukan di Kabupaten Buleleng. Sebanyak 850 murid dari 30 SD mengikuti berbagai lomba olahraga tradisional dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) ke-43 di Lapangan Bhuwana Patra Singaraja, Jumat (11/9) hingga Sabtu (12/9).
Kegiatan yang digagas Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) Undiksha tersebut digelar bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng serta Kelompok Kerja Guru Olahraga (KKGO) Kecamatan Buleleng. Peserta berasal dari lima kecamatan, yakni Tejakula, Sawan, Sukasada, Buleleng, dan Gerokgak.
Ketua Panitia Pelaksana, Made Agus Wijaya, dikonfirmasi Minggu (13/9), mengatakan, kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) FOK Undiksha. Kegiatan ini sekaligus menjadi kelanjutan program pendampingan olahraga tradisional yang sebelumnya dilakukan di tiga SD di Buleleng.
“Ini merupakan bentuk keberlanjutan pendampingan olahraga tradisional yang kami lakukan di sekolah. Harapannya, olahraga tradisional semakin dikenal dan dimainkan oleh anak-anak,” katanya.
Menurutnya, dalam perlombaan tersebut terdapat empat jenis olahraga tradisional yang dipertandingkan dalam lima kategori. Yakni terompah panjang kategori putra dan putri, estafet lari balok kategori campuran, hadang atau megala-gala kategori campuran, serta tarik tambang kategori campuran.
Agus Wijaya menambahkan, setiap permainan tidak hanya mengandalkan kekuatan dan keterampilan fisik. Para peserta juga dituntut memiliki konsentrasi, strategi, kekompakan, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. Hal tersebut menjadi bagian penting yang ingin ditanamkan melalui kegiatan olahraga tradisional di lingkungan sekolah.
“Ratusan murid tampak bersemangat mengikuti setiap pertandingan, sementara dukungan para suporter membuat suasana di Lapangan Bhuwana Patra semakin meriah,” katanya.
Kegiatan tersebut dibuka langsung Wakil Bupati Buleleng I Gede Supriatna. Dalam sambutannya, Supriatna mengatakan olahraga tradisional memiliki nilai yang lebih luas dibandingkan sekadar aktivitas fisik. Permainan tradisional merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan.
Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi salah satu upaya menghidupkan kembali permainan tradisional di kalangan anak-anak. Selain mendorong aktivitas fisik, olahraga tradisional juga dapat menjadi sarana pendidikan karakter, terutama dalam membangun sportivitas, disiplin, kekompakan, dan kerja sama.
“Melalui perlombaan tingkat kabupaten ini, olahraga tradisional diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat terus dimainkan dan dikembangkan di sekolah,” tandasnya. (Yuda/balipost)










