Gubernur Bali, Wayan Koster melepas burung titiran ke alam bebas pada perayaan Tumpek Uye di Pura Luhur Batukau, Tabanan, Sabtu (5/9). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Rahina Tumpek Uye yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye, Sabtu (5/9), dirayakan secara serentak di seluruh kabupaten/kota di Bali. Peringatan yang identik dengan penghormatan terhadap satwa itu tidak hanya diwujudkan melalui persembahyangan, tetapi juga berbagai aksi nyata untuk menjaga kesehatan, melindungi, dan melestarikan hewan serta lingkungan.

Untuk tingkat Provinsi Bali, rangkaian perayaan Tumpek Uye dipusatkan di Pura Luhur Batukau, Kabupaten Tabanan. Kegiatan tersebut dihadiri Gubernur Bali, Wayan Koster, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, Sekretaris Daerah Provinsi Bali Dewa Made Indra, Sekda Kabupaten Tabanan I Gede Susila, jajaran perangkat daerah Pemprov Bali dan Pemkab Tabanan, serta masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan memberi makan ikan di kolam Beji Pura Luhur Batukau. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pelepasan ratusan ekor burung titiran ke alam bebas.

Baca juga:  Perbaikan Jaringan PLN, RSUP Sanglah Tunda Puluhan Operasi

Setelah itu, Gubernur Bali bersama rombongan mengikuti persembahyangan di Pura Beji dan Pura Penataran Luhur Batukau.

Usai kegiatan persembahyangan, rombongan meninjau pelaksanaan vaksinasi rabies dan sterilisasi massal terhadap Hewan Penular Rabies (HPR), terutama anjing, yang digelar di Banjar Wangaya Kaja, Desa Wangaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari aksi nyata peringatan Tumpek Uye yang diarahkan tidak hanya pada aspek ritual, tetapi juga pada upaya menjaga kesehatan dan kesejahteraan satwa.

Secara bersamaan, kegiatan serupa juga berlangsung di kabupaten/kota lainnya di Bali. Selain persembahyangan, pemerintah daerah bersama masyarakat menggelar vaksinasi rabies dan sterilisasi massal HPR di sejumlah titik.

Baca juga:  Lestarikan Warisan Leluhur, Pameran IKM Bali Bangkit Terus Berlanjut

Kegiatan juga dibarengi Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada masyarakat mengenai bahaya rabies serta pentingnya vaksinasi terhadap HPR.

Tak hanya anjing dan satwa darat, peringatan Tumpek Uye juga menyentuh upaya pelestarian fauna laut. Di Pantai Masceti, Gianyar, dan Oemah Penyu Desa Uma Anyar, Kecamatan Seririt, Buleleng, dilakukan pelepasan ratusan tukik ke habitat alaminya.

Pelepasan tukik tersebut menjadi salah satu bentuk aksi nyata untuk menjaga keberlangsungan fauna sekaligus mempertahankan keseimbangan ekosistem laut di Bali.

Gubernur Koster mengatakan Tumpek Uye atau yang juga dikenal sebagai Tumpek Kandang memiliki makna penghormatan terhadap berbagai jenis satwa yang selama ini memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Momentum ini sekaligus mengingatkan manusia mengenai tanggung jawab untuk menjaga keberadaan dan kelestarian makhluk hidup lainnya.

Baca juga:  Gubernur Koster Beri Insentif Nyoman dan Ketut Mulai 2026, Terobosan Jaga Populasi Orang Bali

Nilai tersebut sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana, yang menekankan keseimbangan dan keharmonisan kehidupan melalui hubungan manusia dengan Tuhan (Parhyangan), hubungan antarmanusia (Pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (Palemahan).

Dengan pelaksanaan secara serentak di seluruh Bali, Gubernur Koster berharap Tumpek Uye tidak berhenti sebagai perayaan keagamaan dan budaya, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian masyarakat terhadap kesehatan, kesejahteraan, serta kelestarian satwa dan lingkungan.

Semangat tersebut sekaligus memperkuat kearifan lokal Bali dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan seluruh makhluk hidup. (kmb/balipost)

BAGIKAN