Gubernur Bali, Wayan Koster bersama jajaran melepas burung dalam rangka peringatan Tumpek Uye, di areal Pura Sakenan, Pulau Serangan, Sabtu (12/7/2025). (BP/Istimewa)

DENPASAR, BALIPOST.com – Gubernur Bali, Wayan Koster mengajak seluruh komponen masyarakat Bali merayakan Rahina Tumpek Uye yang jatuh pada Sabtu, 5 September 2026, atau Saniscara Kliwon Uye. Perayaan Tumpek Uye dilaksanakan secara niskala dan sakala sebagai bentuk penghormatan terhadap hewan, satwa, dan fauna sekaligus menjaga keharmonisan alam beserta seluruh isinya.

Ajakan tersebut disampaikan Koster mengacu pada Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 04 Tahun 2022 tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru.

Menurut Gubernur Koster, Tumpek Uye memiliki makna penting dalam membangun kesadaran masyarakat untuk tidak hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga memberikan kembali kepada alam. Setelah manusia selama enam bulan atau 210 hari memanfaatkan berbagai sumber daya alam, perilaku tersebut perlu diimbangi dengan tindakan nyata untuk menjaga dan memelihara alam.

“Rahina Tumpek Uye bermakna memuliakan hewan/binatang, satwa, fauna dalam menjaga harmoni alam beserta isinya,” ujar Gubernur Koster, Kamis (3/9).

Baca juga:  SHGB dan Perizinan Bali Handara, Satpol PP Sebut Ada Sejumlah Informasi Belum Dibuka

Gubernur Koster menegaskan, makna Tumpek Uye memberikan tuntunan kehidupan yang mulia agar manusia tidak terus-menerus hanya mengambil isi alam ciptaan Tuhan. Sebaliknya, setiap enam bulan sekali melalui momentum Tumpek Uye, masyarakat diajak melakukan aksi nyata untuk memberi atau melepaskan sesuatu kepada alam sehingga keseimbangan dapat kembali terjaga.

Secara niskala, Tumpek Uye dilaksanakan melalui kegiatan persembahyangan atau mabhakti bersama di wilayah masing-masing. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada pagi hari mulai pukul 07.00 Wita hingga selesai, menggunakan sarana upakara sesuai dengan dresta atau tradisi Bali setempat.

Sementara secara sakala, masyarakat dapat melakukan berbagai kegiatan nyata untuk memuliakan dan menjaga satwa. Di antaranya pelepasan burung, tukik, ikan maupun jenis binatang lainnya yang disesuaikan dengan kondisi serta potensi di masing-masing wilayah.

Kegiatan tersebut juga dapat dikembangkan dalam skala yang lebih besar pada Minggu, 6 September 2026.

Baca juga:  Ritel Berjejaring Tak Terbendung, Kemandirian Ekonomi "Krama" Bali Makin Hancur

Gubernur Koster meminta pelaksanaan Tumpek Uye tidak sebatas menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam dan seluruh makhluk hidup.

Penegasan pelaksanaan Tumpek Uye tersebut ditujukan kepada seluruh komponen masyarakat, mulai dari pimpinan lembaga vertikal, wali kota/bupati se-Bali, jajaran Majelis Desa Adat dari tingkat provinsi hingga kecamatan, pimpinan lembaga pendidikan, perbekel dan lurah, bendesa adat, pimpinan organisasi kemasyarakatan, pihak swasta hingga berbagai unsur masyarakat lainnya.

Gubernur Koster menekankan bahwa pelaksanaan Tumpek Uye merupakan tanggung jawab bersama dalam memuliakan pengetahuan warisan adi luhung yang diwariskan para panglingsir dan guru-guru suci Bali.

Warisan tersebut, menurutnya, mengajarkan cara hidup Krama Bali yang menyatu dengan alam. Prinsip itu tercermin dalam pandangan bahwa manusia merupakan bagian dari alam dan harus hidup sejalan serta seirama dengan alam.

“Manusia adalah alam itu sendiri, manusia harus sejalan/seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, urip yang manguripi, hidup harus menghormati alam,” tegasnya.

Baca juga:  Gubernur Koster Pimpin Rapat Penetapan LP2B, Target Nasional 87 Persen Tercapai

Ia mengibaratkan alam sebagai orangtua yang harus dikasihi dan dijaga. Karena itu, hubungan manusia dengan alam harus dibangun atas dasar kasih, penghormatan dan tanggung jawab terhadap seluruh kehidupan.

Prinsip tersebut juga ditekankan melalui nilai masiha ri samasta jagat, yakni kasih terhadap seluruh alam dan kehidupan.

Sebagai Gubernur Bali, Koster pun mengajak seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama melaksanakan Rahina Tumpek Uye dengan sebaik-baiknya dan penuh rasa tanggung jawab.

“Mari bersama-sama merayakan/melaksanakan Rahina Tumpek Uye dengan sebaik-baiknya serta penuh rasa tanggung jawab demi Nindihin Gumi Bali,” ajaknya.

Melalui Tumpek Uye, masyarakat Bali diharapkan tidak hanya memuliakan satwa secara simbolis, tetapi juga menjadikan momentum tersebut sebagai pengingat untuk terus menjaga kelestarian lingkungan demi keberlangsungan kehidupan manusia dan seluruh makhluk di alam. (kmb/balipost)

BAGIKAN