Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem mengembangkan rencana evakuasi berbasis banjar dengan memanfaatkan teknologi pemetaan dengan Desa Adat Temukus Besakih.(BP/istimewa)

AMLAPURA, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karangasem mengembangkan rencana evaluasi berbasis banjar dengan memanfaatkan teknologi pemetaan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana yang berpotensi terjadi.

Kalaksa BPBD Karangasem, I Made Aditya Sugiharta, mengungkapkan, pihaknya melakukan pengembangan tersebut bersama dengan Desa Adat Temukus dengan dukungan program SIAP SIAGA. Kata dia, kegiatan pelatihan pemetaan dan pengambilan data berbasis teknologi digelar Agustus 2026.

“Dalam kegiatan tersebut, peserta dilatih memanfaatkan sejumlah teknologi seperti drone, aplikasi QGIS, Chatmap, Drone Tasking Manager, hingga QField. Teknologi tersebut digunakan untuk mengumpulkan sekaligus mengolah data lapangan secara lebih detail,” ujarnya belum lama ini.

Baca juga:  4.733 Orang Dievakuasi dari 3 Gili

Sugiharta mengatakan, pemanfaatan teknologi diharapkan dapat menghasilkan peta evakuasi yang lebih detail dan mudah dipahami masyarakat. “Tujuannya meningkatkan kapasitas SDM Desa Adat Temukus dalam perencanaan kesiapsiagaan bencana melalui pemanfaatan teknologi pemetaan dan pengumpulan data,” katanya.

Menurut Sugiharta, data yang dikumpulkan tidak hanya berkaitan dengan kondisi geografis, tetapi juga berbagai Point of Interest (POI) atau titik penting yang dibutuhkan dalam penanganan bencana. Data tersebut kemudian diolah dan divalidasi bersama untuk memastikan lokasi maupun jalur evakuasi yang tercantum dalam peta benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

“Yang divalidasi jalur evakuasi dan titik-titik penting yang ada di wilayah tersebut. Jadi hasilnya bisa lebih sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pendekatan berbasis banjar dinilai penting karena rencana evakuasi harus bisa diterapkan hingga tingkat masyarakat paling bawah. Warga tidak hanya membutuhkan informasi mengenai adanya ancaman bencana, tetapi juga harus mengetahui ke mana harus bergerak ketika kondisi darurat terjadi,” jelasya.

Baca juga:  Cuaca Ekstrem Picu Longsor dan Kerusakan Jalan di Jembrana

Sementara itu, Bendesa Adat Temukus, I Nengah Sindia, mengatakan, pihaknya berharap desa adat nantinya memiliki peta evakuasi sendiri yang dapat menjadi pedoman masyarakat. “Harapan kami ketika terjadi bencana, terutama letusan Gunung Agung, kami sudah punya peta evakuasi tersendiri. Apa yang kami lakukan, ke mana jalur evakuasi, dan evakuasi terkonsentrasi di mana,” kata Sindia.

Sindia mengatakan, keberadaan peta yang mudah dipahami masyarakat akan membantu memperjelas langkah yang harus dilakukan ketika terjadi bencana. Terlebih lagi, Desa Adat Temukus merupakan wilayah yang memiliki potensi terdampak erupsi Gunung Agung. Sehingga kesiapan masyarakat di tingkat desa adat hingga banjar perlu terus diperkuat.

Baca juga:  Empati Bencana, Anggota DPRD Gianyar Desak Pemerintah Tiadakan Pesta Kembang Api Tahun Baru

“Hasil pemetaan dan berbagai kesepakatan tersebut selanjutnya akan digunakan untuk menyempurnakan layout peta sebelum difinalkan. Karena kita berbicara tentang rencana evakuasi berbasis banjar, maka data dan jalur yang disusun harus benar-benar bisa dipahami dan digunakan ketika terjadi kondisi darurat,” jelasnya. (Eka Parananda/balipost).

 

BAGIKAN