Gubernur Bali, Wayan Koster saat meninjau langsung dampak gempa di Pura Giri Segara, Labuan Bajo, Kamis (20/8). (BP/Istimewa)

LABUAN BAJO, BALIPOST.com – Solidaritas dan koordinasi antardaerah di kawasan Nusa Tenggara diperkuat menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8).

Hal itu ditandai dengan pertemuan tiga gubernur, yakni Gubernur Bali Wayan Koster, Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal, dan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, di Pos Penanganan Bencana Flores, Labuan Bajo, Kamis (20/8).

Pertemuan tersebut berlangsung di tengah proses penanganan pascabencana di Pulau Flores. Bali dan NTB sebelumnya telah bergerak cepat mengirimkan bantuan sehari setelah gempa untuk mendukung penanganan masyarakat terdampak.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bali, I Gede Agung Teja Bhusana Yadnya, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas antardaerah yang berada dalam satu kawasan Nusa Tenggara.

Menurut Teja, wilayah yang berdekatan memiliki tanggung jawab moral untuk bergerak cepat ketika salah satu daerah mengalami bencana.

“Karena NTT ada masalah bencana maka sudah kewajiban saling bantu, dan wilayah terdekat harus paling cepat membantu. Karena itu sehari setelah gempa, Bali dan NTB sudah mengirim bantuan,” kata Teja saat dikonfirmasi, Kamis (20/8) malam.

Baca juga:  Era Globalisasi, Generasi Muda Harus Miliki Jiwa Bela Negara

Dalam respons awal bencana, dikatakan, Pemprov Bali mengerahkan bantuan logistik sekaligus personel untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak. Sebagian logistik Bali dibeli di Kabupaten Ende, NTT, sehingga proses distribusi dapat dilakukan lebih cepat tanpa seluruh kebutuhan harus dibawa dari Bali.

Selain bantuan barang, Bali mengirimkan personel BPBD, tenaga medis, serta PMI Bali. Pengerahan tersebut dilakukan untuk mendukung asesmen kebutuhan sekaligus pelayanan kepada masyarakat terdampak.

NTB juga mengerahkan bantuan logistik dan tim respons. Namun, lokasi penempatan bantuan dari Bali maupun NTB tidak berada di titik yang sama karena menyesuaikan arahan Posko Pengendali Penanganan Bencana NTT.

Teja menjelaskan kondisi geografis Pulau Flores menjadi salah satu pertimbangan dalam pengaturan jalur distribusi bantuan. Dari delapan kabupaten di Pulau Flores, tujuh kabupaten terdampak dengan tingkat kerusakan yang berbeda.

Untuk wilayah Flores bagian barat, bantuan dari luar daerah diarahkan masuk melalui Labuan Bajo. Sementara wilayah Flores bagian timur dilayani melalui Maumere.

Baca juga:  Sebuah Pesan Gubernur Koster  pada Manis Kuningan, Keikhlasan dan Pengendalian Diri Ibadah Tidak Pernah Selesai

“Saya sendiri tanggal 17 masuk melalui Maumere bersama tim. Sementara NTB masuk melalui Labuan Bajo menuju wilayah tengah,” ungkapnya.

Pembagian jalur tersebut dilakukan agar distribusi bantuan lebih efektif dan tidak terjadi penumpukan bantuan di satu wilayah. Penempatan personel dan logistik juga disesuaikan dengan kebutuhan serta arahan posko pengendali di NTT.

Dalam kunjungan ke Labuan Bajo, diungkapkan, Gubernur Koster juga meninjau Pura Giri Segara yang turut terdampak gempa. Berdasarkan hasil peninjauan, kerusakan pada pura tersebut tergolong ringan.

Sebelumnya, Bali telah bergerak sehari setelah gempa mengguncang NTT. Bantuan diawali dengan pengiriman lima tenaga kesehatan sebagai tim pendahulu untuk melakukan asesmen cepat terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat di wilayah terdampak.

Tim tersebut kemudian diperkuat tenaga medis dari Emergency Medical Team (EMT) Regional Bali dan EMT Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) Bali.

Personel yang diterjunkan mencakup dokter umum, dokter spesialis anestesi, perawat, apoteker dan tenaga logistik. Tim kesehatan tersebut juga telah memberikan pelayanan di Pos Kesehatan Pulau Palue, Kabupaten Sikka.

Baca juga:  Karena Ini, Pembobol Kos-kosan Berhasil Ditangkap

Dukungan kesehatan yang dikirim Bali meliputi obat-obatan, dua unit tenda rumah sakit lapangan berukuran 4×6 meter, lima emergency kit, lima unit oksigen konsentrat, 15.000 sarung tangan nonsteril, 15.000 masker bedah medis, enam paket obat-obatan serta enam unit handy talkie untuk menunjang komunikasi tim di lapangan.

Selain tenaga kesehatan, BPBD Bali mengirimkan personel untuk membantu penanganan darurat sekaligus melakukan asesmen kebutuhan masyarakat.

Logistik yang disiapkan meliputi makanan siap saji, mi instan, beras, air mineral, minyak goreng, pampers, perlengkapan mandi, alat kebersihan, matras, selimut dan terpal.

Sebagian kebutuhan logistik dibeli di Kabupaten Ende. Langkah tersebut ditempuh agar bantuan dapat lebih cepat disalurkan ke daerah yang membutuhkan.

Pemprov Bali juga memfasilitasi masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha yang ingin memberikan bantuan melalui program Bali Peduli Bencana.

Pengumpulan donasi dibuka sejak 16 hingga 28 Agustus 2026 melalui rekening BPD Bali Nomor 010.01.0501679-1.

Dana yang terkumpul nantinya disalurkan kepada masyarakat terdampak melalui Posko Penanganan Darurat Provinsi NTT. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN