Suasana pengukuhan 72 anggota Paskibraka Provinsi Bali Tahun 2026, di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Sabtu (15/8). (BP/win)

DENPASAR, BALIPOST.com – Sebanyak 72 pemuda dan pemudi terbaik dari seluruh kabupaten/kota di Bali resmi dikukuhkan sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Provinsi Bali Tahun 2026. Pengukuhan dilakukan Gubernur Bali Wayan Koster di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Sabtu (15/8).

Usai pengukuhan, Kepala Bidang Ideologi, Wawasan Kebangsaan, dan Karakter Bangsa Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali, I Komang Kusumaedi, mengatakan para Paskibraka tersebut merupakan hasil seleksi berjenjang yang diikuti pelajar terbaik dari seluruh kabupaten/kota di Bali.

Pria yang akrab disapa IKK ini menjelaskan, pada tahap awal terdapat 90 peserta yang mengikuti seleksi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16 orang dikembalikan untuk menjalankan tugas di tingkat kabupaten/kota, sedangkan 74 peserta dinyatakan lolos seleksi tingkat Provinsi Bali sebagai calon Paskibraka.

Dari 74 calon tersebut, tiga peserta dengan peringkat terbaik kemudian dikirim untuk mengikuti seleksi Paskibraka tingkat nasional. Hasilnya, satu pasangan dari Bali terpilih menjadi bagian dari Paskibraka tingkat nasional.

“Sekarang di sini ada 72 orang,” kata Kusumaedi.

Menurutnya, dari 72 Paskibraka Bali 2026 tersebut, nantinya sebanyak 70 orang akan tampil dalam formasi pengibaran, sementara dua lainnya menjadi cadangan. Para anggota cadangan juga akan mendapat kesempatan bertugas pada penurunan bendera pada sore, sehingga seluruh anggota tetap memperoleh pengalaman menjalankan tugas.

Baca juga:  Di Denpasar, Banyak Alamat Ormas Tak Sesuai Data

Mereka berasal dari kalangan pelajar kelas X dengan rentang usia sekitar 16-18 tahun. IKK menyebut latar belakang sosial ekonomi para peserta cukup beragam. Bahkan, terdapat peserta yang berasal dari keluarga kurang mampu dan anak yatim.

Peserta yang dikirim mengikuti seleksi tingkat nasional berasal dari Karangasem. Selain itu, peserta Paskibraka Bali 2026 berasal dari berbagai daerah, termasuk Jembrana, Karangasem, serta Klungkung dan Nusa Penida.

“Sebagian besar mereka adalah siswa-siswa yang berprestasi di sekolahnya,” ujarnya.

Proses seleksi dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Mulai dari tes kemampuan umum, wawasan kebangsaan, psikotes, kesamaptaan, wawancara, kepribadian hingga kesehatan.

IKK menegaskan, proses pembinaan tidak berhenti setelah pengukuhan. Para Paskibraka masih akan menjalani pemantapan dan latihan hingga pelaksanaan upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.

Mereka juga belum ditentukan secara final untuk menempati posisi masing-masing dalam formasi pengibaran. Penentuan petugas pengibar bendera akan dilakukan oleh tim pelatih berdasarkan kesiapan seluruh anggota pada pagi hari sebelum HUT RI dimulai.

“Sekarang mereka masih latihan lagi, pemantapan. Belum ditentukan siapa yang mengibarkan bendera, siapa yang bawa bali. Mereka harus siap semuanya,” jelasnya.

Setelah menjalankan tugas pada 17 Agustus, para Paskibraka tersebut juga masih memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari Paskibraka hingga peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni 2027.

Baca juga:  Jelang Akhir Tahun, BNNP Bali Amankan Ratusan Butir Ekstasi

Karena itu, IKK meminta seluruh pihak, mulai dari Pemprov Bali, pemerintah kabupaten/kota hingga sekolah dan keluarga, bersama-sama menjaga para Paskibraka sebagai aset sumber daya manusia Bali.

Ia menilai pengalaman menjadi Paskibraka dapat menjadi modal penting bagi para pelajar untuk membangun kedisiplinan, karakter, kepemimpinan, dan rasa kebangsaan.

“Adik-adik ini aset kita yang harus dijaga bersama. Mereka juga bisa menginspirasi teman-temannya di sekolah karena sudah dididik disiplin,” katanya.

Perhatian juga diarahkan pada keberlanjutan pendidikan para Paskibraka, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu. IKK menyebut pihaknya akan terus berkomunikasi dengan sekolah dan pemerintah kabupaten/kota agar pendidikan mereka tidak terputus setelah menjalankan tugas sebagai Paskibraka.

Terlebih, sebagian besar peserta masih duduk di kelas X sehingga masih memiliki perjalanan pendidikan yang cukup panjang hingga menyelesaikan SMA.

Ia berharap dukungan tersebut dapat dilanjutkan hingga pendidikan tinggi melalui program Pemerintah Provinsi Bali, termasuk program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS).

“Kita memastikan mereka selesai sekolah sampai tamat SMA. Kemudian seperti program Bapak Gubernur, Satu Keluarga Satu Sarjana, bisa dilanjutkan menjadi seorang sarjana,” ujarnya.

Baca juga:  8 Kabupaten Berpotensi Hujan, Cek Prakiraan Cuaca Bali 13 Januari

IKK mengatakan, dari pemetaan bakat dan minat, para Paskibraka memiliki cita-cita yang beragam. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, dan profesi lainnya. Menurutnya, potensi tersebut perlu terus didorong agar mereka dapat berkembang dan memberikan kontribusi bagi Bali.

Untuk mendukung para peserta selama menjalani rangkaian pembinaan, pemerintah juga memberikan sejumlah fasilitas dan penghargaan. Selama masa latihan, kebutuhan pemusatan latihan dipenuhi, sementara Pemprov Bali memberikan uang saku harian serta dukungan transportasi.

Setelah pelaksanaan pengibaran, para Paskibraka juga akan menerima uang penghargaan sebesar Rp5 juta. Mereka juga mendapatkan pin penghargaan dari Gubernur Bali.

Selain penghargaan materiil, pengalaman sebagai Paskibraka juga dapat menjadi modal bagi mereka untuk mendapatkan rekomendasi ketika melanjutkan pendidikan maupun mengikuti seleksi di berbagai lembaga.

IKK mencontohkan, Paskibraka angkatan sebelumnya telah melanjutkan pendidikan ke berbagai jenjang, termasuk ada yang diterima di Akademi TNI.

“Ini aset kita. Jangan sampai setelah selesai bertugas kemudian tidak kita perhatikan,” tegasnya.

Ia berharap pembinaan tersebut tidak hanya berhenti pada momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI. Menurutnya, keberhasilan membentuk Paskibraka bukan sekadar menghasilkan petugas upacara, tetapi juga membangun generasi muda Bali yang memiliki karakter, disiplin, wawasan kebangsaan, serta kesempatan pendidikan yang lebih baik. (Ketut Winata/balipost)

BAGIKAN