
DENPASAR, BALIPOST.com – Menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional bukan sekadar soal baris-berbaris rapi di Istana Negara. Bagi enam pelajar terbaik asal Bali yang baru saja lolos seleksi tingkat provinsi, kesempatan itu adalah tentang mimpi, perjuangan, disiplin, dan harapan membanggakan keluarga serta daerah.
Jelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026, persaingan seleksi Paskibraka Nasional dari Bali berlangsung sangat ketat. Sebanyak 90 pelajar terbaik dari sembilan kabupaten/kota di Bali mengikuti tahapan seleksi yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali.
Dari proses panjang itu, akhirnya terpilih enam calon wakil Bali ke tingkat nasional yang diumumkan, Kamis (7/5) malam. Mereka terdiri dari tiga putra dan tiga putri yang kini membawa harapan Pulau Dewata untuk tampil di panggung nasional.
Untuk kelompok putra, terpilih I Made Dwi Sathya Kurniawan dari SMAN 1 Kuta Utara Badung, I Gusti Ngurah Agung Avara Sastrawan Wibisana dari SMAN 3 Denpasar, dan Kadek Pandu Ari Capriano dari SMAN 1 Melaya Jembrana.
Sementara dari kelompok putri yakni Vadeline Angelia dari JB School Badung, Ni Luh Made Pradnya Dewi Paramita dari SMK Triatma Jaya Tabanan, serta Ni Komang Gayatri Dinda Gita Arsani dari SMAN 1 Kubu Karangasem.
Di balik seragam putih dan langkah tegap mereka, tersimpan cerita perjuangan masing-masing.
Kadek Pandu Ari Capriano, misalnya, mengaku menjadi anggota Paskibraka merupakan impiannya sejak kecil. Siswa kelas XI SMAN 1 Melaya itu tak mampu menyembunyikan rasa bangga ketika namanya dinyatakan lolos menuju seleksi nasional.
“Impian saya bisa lulus di tingkat nasional. Kalau bisa saya ingin menjadi pengibar bendera. Motivasi saya karena memang cita-cita dari kecil dan juga dukungan dari kakak-kakak serta orang tua,” ujarnya, Jumat (8/5).
Remaja 16 tahun asal Jembrana itu mengaku ingin menjadi tentara. Baginya, Paskibraka bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler, melainkan latihan mental dan disiplin menuju cita-cita masa depan.
Hal serupa dirasakan I Gusti Ngurah Agung Avara Sastrawan Wibisana. Siswa kelas X SMAN 3 Denpasar itu menargetkan bisa masuk pasukan 8, formasi bergengsi yang bertugas sebagai pengibar bendera pusaka.
“Target saya bagaimana bisa memberikan yang terbaik dari diri saya sendiri sehingga astungkara bisa lolos nasional dan menjadi pasukan 8,” katanya.
Avara mengaku motivasi mengikuti Paskibraka bermula dari dorongan pelatih sejak SMP serta dukungan penuh orang tua. Pengalaman selama mengikuti seleksi juga menjadi bagian penting dari langkahnya meraih cita-cita menjadi polisi atau anggota TNI Angkatan Laut.
Sementara itu, I Made Dwi Sathya Kurniawan dari SMAN 1 Kuta Utara Badung melihat keberhasilannya lolos seleksi provinsi sebagai langkah awal menuju impian lain yang lebih besar.
“Target saya sekarang kalau lolos nasional ingin menjadi pengibar di pasukan 8. Menjadi Paskibraka memang sudah keinginan saya sejak SD dan ini langkah awal menuju cita-cita saya menjadi Praja IPDN,” ungkapnya.
Di kelompok putri, semangat yang sama juga terlihat kuat. Vadeline Angelia dari JB School Badung mengaku bersyukur bisa melangkah hingga tahap nasional. Remaja 16 tahun itu bahkan sudah memiliki target khusus bila nantinya terpilih. “Target saya menjadi baki,” katanya singkat sambil tersenyum.
Di luar aktivitas Paskibraka, Vadeline ternyata memiliki ketertarikan besar pada bahasa asing. Ia bercita-cita menjadi translator dan kini fokus mendalami Bahasa Inggris serta Mandarin. Baginya, pengalaman mengikuti Paskibraka akan menjadi pengalaman berharga yang tidak terlupakan sepanjang hidup.
Cerita penuh haru juga datang dari Ni Luh Made Pradnya Dewi Paramita atau Parania dari SMK Triatma Jaya Tabanan. Siswi berusia 15 tahun itu mengaku sempat tidak percaya bisa lolos hingga tahap nasional. “Paskibraka memang cita-cita saya dari kecil dan saya ingin membanggakan diri sendiri, orang tua, sekolah, dan daerah,” ucapnya.
Parania memiliki mimpi bekerja di luar negeri. Ia berharap proses seleksi nasional nanti menjadi pengalaman penting untuk membentuk mental dan kedisiplinannya.
Sementara itu, Ni Komang Gayatri Dinda Gita Arsani dari SMAN 1 Kubu Karangasem menyebut keberhasilannya menjadi calon Paskibraka nasional sebagai kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan sekolahnya. “Motivasi saya karena memang cita-cita dari kecil dan ingin membanggakan keluarga, sekolah, serta daerah,” katanya.
Siswi 16 tahun itu memiliki cita-cita menjadi dokter. Baginya, perjuangan di Paskibraka mengajarkan arti tanggung jawab, kerja keras, dan semangat pantang menyerah.
Kini, enam pelajar terbaik Bali itu masih harus menghadapi tahapan seleksi nasional yang lebih berat. Namun satu hal yang sama terlihat dari mereka, yaitu semangat mengibarkan Merah Putih bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pengabdian dan kebanggaan bagi bangsa. Dari Bali, mereka membawa mimpi besar menuju Istana Negara. (Ketut Winata/balipost)









