
JAKARTA, BALIPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu (12/8), bergerak melemah 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.877 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.861 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi perkembangan negosiasi antara AS dengan Iran.
“Perkembangan negosiasi antara AS dan Iran akan mempengaruhi harga minyak,” katanya dikutip dari Kantor Berita Antara.
Sputnik melaporkan bahwa Iran mengajukan beberapa syarat pembukaan kembali Selat Hormuz kepada AS melalui mediator, termasuk penghentian agresi di seluruh kawasan termasuk Lebanon dan Palestina, serta pengembalian aset yang dibekukan.
Namun, seperti yang disampaikan Anadolu, Teheran dan Washington hingga kini belum mencapai kesepakatan final untuk mengakhiri konfrontasi tersebut, sementara penutupan Selat Hormuz terus mengganggu rantai pasokan energi global.
Di samping itu, pelaku pasar turut wait and see data inflasi AS yang akan dirilis pada malam ini.
Melihat sentimen domestik, risiko ketidakpastian disebut sedikit berkurang seiring Presiden RI Prabowo Subianto telah menunjuk Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI).
“Respons pasar cukup baik dan sosok yang diterima pasar dengan komitmen yang jelas pada program stabilitas rupiah yang berkelanjutan,” ungkap Rully.
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah di level Rp17.876 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.824 per dolar AS. (kmb/balipost)










