
NEGARA, BALIPOST.com – Antrean kendaraan yang hendak keluar Bali, di Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, belum sepenuhnya terurai setelah sempat terdampak aksi penyampaian aspirasi sejumlah pengemudi truk di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Sabtu (26/9).
Bahkan, hingga Minggu (27/9) dini hari, antrean kendaraan dari arah pelabuhan mengular hingga Dusun Klatakan, Kecamatan Melaya, atau sekitar 9 kilometer dari pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk.
Kondisi tersebut terjadi setelah aktivitas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk sempat terganggu pada Sabtu sore. Antrean kendaraan berat yang hendak menyeberang kemudian berdampak pada arus kendaraan di sisi Gilimanuk. Dari informasi, hingga pukul 02.00 WITA, antrean kendaraan masih memanjang sampai wilayah Dusun Klatakan, Melaya.
Kendaraan yang didominasi truk tampak berjejer memenuhi badan jalan secara perlahan menuju arah Pelabuhan Gilimanuk. Sebagian pengemudi bahkan memilih beristirahat di kendaraannya sambil menunggu antrean bergerak. Lamanya waktu tunggu membuat sejumlah sopir harus bertahan berjam-jam sebelum mendapatkan giliran masuk ke kawasan pelabuhan.
Salah seorang sopir truk, Januar (46), mengatakan bahwa dirinya telah terjebak antrean sejak Sabtu sore. Bahkan kendaraan sempat tidak bergerak sejak pukul 15.00 WITA. Dari informasi, ada aksi demo di Ketapang sehingga menyebabkan penyeberangan tersendat.
Sementara itu, penyeberangan kembali beroperasi pada Sabtu malam setelah ada kesepakatan. Sekitar pukul 21.00 WITA, kapal sudah mulai diberangkatkan dari Ketapang menuju Gilimanuk.
Sementara itu, Manager Humas PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Ketapang, Bintang Felfian mengatakan, aksi penyampaian aspirasi sejumlah pengemudi truk berlangsung di area pintu keluar Dermaga LCM Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 15.15 WITA. Menurutnya, kondisi tersebut dipicu dinamika operasional setelah adanya penyesuaian muatan kapal oleh KSOP Tanjung Wangi. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan keselamatan pelayaran, termasuk pengaturan muatan kapal LCT yang mengangkut truk besar dan sedang.
Faktor cuaca dan kondisi maritim juga menjadi pertimbangan. Berdasarkan informasi BMKG Stasiun Meteorologi Banyuwangi-Pelabuhan Ketapang, terdapat peringatan dini terkait potensi angin kencang 10-15 knots dari arah utara serta arus kuat dengan kecepatan di atas 1,2 meter per detik.
ASDP bersama KSOP kemudian melakukan mediasi dan komunikasi dengan perwakilan pengemudi truk untuk mencari solusi atas kondisi operasional tersebut. Pelayanan penyeberangan selanjutnya kembali dibuka dan beroperasi pada Sabtu malam.
Meski operasional sudah kembali berjalan, dampak antrean belum langsung terurai. Pada Minggu pagi, ekor antrean di sisi Gilimanuk masih berada di sekitar Monumen Lintas Laut Jawa-Bali atau sekitar 3,5 kilometer dari pelabuhan.
Antrean kemudian terus bergerak secara bertahap. Hingga Minggu siang, ekor antrean kendaraan masih terpantau sampai kawasan pertigaan Cekik, atau sekitar 2 kilometer dari pintu masuk Pelabuhan Gilimanuk.
Sementara itu, di sisi Ketapang, pelayanan penyeberangan juga berlangsung dengan kondisi padat. General Manager ASDP Cabang Ketapang, Media Syahrianto mengatakan, ASDP mengaktifkan kawasan Bulusan sebagai buffer area untuk menampung kendaraan dan membantu mengendalikan kepadatan arus menuju pelabuhan.
Upaya percepatan dan penguatan operasional untuk mengurai antrean kendaraan di kedua sisi Selat Bali terus dilakukan. Langkah tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan kondisi cuaca serta aspek keselamatan pelayaran. Koordinasi juga dilakukan bersama KSOP, BMKG dan pemangku kepentingan terkait. Penyesuaian operasional akan dilakukan berdasarkan kondisi lapangan dengan tetap mengutamakan keselamatan dan kelancaran mobilitas pengguna jasa. (Surya Dharma/balipost)










